BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN
OSTEOPOROSIS PADA LANSIA
1.1. Defenisi
Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous,
osteo artinya tulang, dan porousberarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi,
osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu penyakit yang mempunyai sifat
khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai gangguan
mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat
menimbulkan kerapuhan tulang (Tandra, 2009).
Menurut WHO pada International Consensus Development
Conference, di Roma, Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan
sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai perubahan
mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada
akhirnya menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan tulang dengan resiko
terjadinya patah tulang (Suryati, 2006).
Menurut National Institute of Health (NIH), 2001
Osteoporosis adalah kelainan kerangka, ditandai dengan kekuatan tulang
mengkhawatirkan dan dipengaruhi oleh meningkatnya risiko patah tulang.
Sedangkan kekuatan tulang merefleksikan gabungan dari dua faktor, yaitu
densitas tulang dan kualitas tulang (Junaidi, 2007).
1.2. Epidemiologi
Insiden osteoporosis lebih tinggi pada wanita
dibandingkan laki-laki dan merupakan problem pada wanita pascamenopause.
Osteoporosis di klinik menjadi penting karena problem fraktur tulang, baik
fraktur yang disertai trauma yang jelas maupun fraktur yang terjadi tanpa
disertai trauma yang jelas.
Diperkirakan lebih 200 juta orang diseluruh dunia
terkena osteoporosis , sepertiganya terjadi pada usia 60-70 th, 2/3nya terjadi
pada usia lebih 80 th. Diperkirakan 30% dari wanita di atas usia 50 th mendapat
1 atau lebih patah tulang vertabra. Diperkirakan 1 dari 5 pria di atas 50 th
mendapat patah tulang akibat osteoporosis dalam hidupnya. Angka kematian 5
tahun pertama meningkat sekitar 20 % pada patah tulang nertebra maupun panggul.
Di Amerika pada tahun 1995 pata tulang aibat
osteoporosis menduduki peringkat 1 dibanding penyakit lain, jumlah 1,5 juta
pertahun dengan patah tulang vertebra terbanyak (750 ribu),hip(250 ribu),
wrist(250 ribu), fraktur lain ( 250 ribu),dengan anggaran meningkat sebesar
13,8 miliar dollarpertahun(kebanyakan biaya untuk patah tulang hip sebesar 8,7
miliar dollar. Bahkan diperkirakan insiden patah tulang hip meningkat bermakna
240% pada wanita dan 320% pada pria. Perkiraan pada tahun 2050 menjadi 6,3 juta
terbanyak di asia.
1.3. Etiologi
Beberapa
penyebab osteoporosis dalam (Junaidi, 2007), yaitu:
1. Osteoporosis
pascamenopause terjadi karena kurngnya hormon estrogen (hormon utama pada
wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium kedalam tulang. Biasanya
gejala timbul pada perempuan yang berusia antara 51-75 tahun, tetapi dapat
muncul lebih cepat atau lebih lambat. Hormon estrogen produksinya menurun 2-3
tahun sebelum menopause dan terus
berlangsung 3-4 tahun setelah meopause. Hal ini berakibat menurunnya
massa tulang sebanyak 1-3% dalam waktu 5-7 tahun pertama setelah menopause.
2. Osteoporosis
senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan
dengan usia dan ketidak seimbangan antara kecepatan hancurnya tulang
(osteoklas) dan pembentukan tulang baru(osteoblast). Senilis berati bahwa
keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang-orang
berusia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering wanita. Wanita sering kali
menderita osteoporosis senilis dan pasca menopause.
3. Kurang
dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder yang
disebakan oleh keadaan medis lain atau obat-obatan. Penyakit ini bisa
disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid,
paratiroid, dan adrenal) serta obat-obatan (mislnya kortikosteroid, barbiturat,
anti kejang, dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang
berlebihan dapat memperburuk keadaan ini.
4. Osteoporosis
juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak
diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar
dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal, dan tidak memiliki
penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang
1.4. Patofisiologi
Kartilago hialin adalah jaringan elastis yang 95%
terdiri dari air dan matrik ekstra selular, 5% sel konrosit. Fungsinya sebagai
penyangga juga pelumas sehingga tidak menimbulkan nyeri pada saat pergerakan
sendi.
Apabila kerusakan jaringan rawan sendi lebih cepat
dari kemampuannya untuk memperbaiki diri, maka terjadi penipisan dan kehilangan
pelumas sehingga kedua tulang akan bersentuhan. Inilah yang menyebabkan rasa
nyeri pada sendi lutut. Setelah terjadi kerusakan tulang rawan, sendi dan
tulang ikut berubah.
Pathway Osteoporosis
1.5. Klasifikasi
Osteoporosis
dibagi 2 kelompok, yaitu :
1. Osteoporosis
Primer
Osteoporosis primer berhubungan dengan
kelainan pada tulang, yang menyebabkan peningkatan proses resorpsi di tulang
trabekula sehingga meningkatkan resiko fraktur vertebra dan Colles. Pada usia
decade awal pasca menopause, wanita lebih sering terkena dari pada pria dengan
perbandingan 68:1 pada usia rata-rata 53-57 tahun.
2. Osteoporosis
Sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh
penyakit atau sebab lain diluar tulang
1.6. Manifestasi Klinis
Osteoporosis
dimanifestasikan dengan :
1. Nyeri
dengan atau tanpa fraktur yang nyata.
2. Nyeri
timbul mendadak.
3. Sakit
hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang.
4. Nyeri
berkurang pada saat istirahat di tempat tidur.
5. Nyeri
ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah jika melakukan aktivitas.
6. Deformitas
vertebra thorakalis (Penurunan tinggi badan)
1.7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Pengurangan Massa Tulang Pada Usia Lanjut
1. Determinan Massa Tulang
a Faktor
genetik
Perbedaan genetik mempunyai
pengaruh terhadap derajat kepadatan tulang. Beberapa orang mempunyai tulang
yang cukup besar dan yang lain kecil. Sebagai contoh, orang kulit hitam pada
umumnya mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat dari pacia bangsa Kaukasia.
Jacii seseorang yang mempunyai tulang kuat (terutama kulit Hitam Amerika),
relatif imun terhadap fraktur karena osteoporosis.
b. Faktor mekanis
Beban mekanis berpengaruh terhadap
massa tulang di samping faktor genetk. Bertambahnya beban akan menambah massa
tulang dan berkurangnya beban akan mengakibatkan berkurangnya massa tulang.
Kedua hal tersebut menunjukkan respons terhadap kerja mekanik Beban mekanik
yang berat akan mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang
besar. Sebagai contoh adalah pemain tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai
adanya hipertrofi baik pada otot maupun tulangnya terutama pada lengan atau
tungkainya, sebaliknya atrofi baik pada otot maupun tulangnya akan dijumpai
pada pasien yang harus istrahat di tempat tidur dalam waktu yang lama,
poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupun demikian belum
diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis yang diperlukan dan berapa
lama untuk meningkatkan massa tulang di sampihg faktor genetik.
c. Faktor makanan dan hormone
Pada seseorang dengan pertumbuhan
hormon dengan nutrisi yang cukup (protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan
mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh genetik yang bersangkutan. Pemberian
makanan yang berlebih (misainya kalsium) di atas kebutuhan maksimal selama masa
pertumbuhan, disangsikan dapat menghasilkan massa tulang yang melebihi
kemampuan pertumbuhan tulang yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan
genetiknya.
2. Determinan penurunan Massa Tulang
a. Faktor genetik
Pada seseorang dengan tulang yang
kecil akan lebih mudah mendapat risiko fraktur dari pada seseorang dengan
tulang yang besar. Sampai saat ini tidak ada ukuran universal yang dapat
dipakai sebagai ukuran tulang normal. Setiap individu mempunyai ketentuan
normal sesuai dengan sitat genetiknya serta beban mekanis den besar badannya.
Apabila individu dengan tulang yang besar, kemudian terjadi proses penurunan
massa tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia, maka individu
tersebut relatif masih mempunyai tulang lebih banyak dari pada individu yang
mempunyai tulang kecil pada usia yang sama.
b. Faktor mekanis
Faktor mekanis mungkin merupakan yang
terpenting dalarn proses penurunan massa tulang schubungan dengan lanjutnya
usia. Walaupun demikian telah terbukti bahwa ada interaksi panting antara
faktor mekanis dengan faktor nutrisi
hormonal. Pada umumnya aktivitas fisis akan menurun dengan bertambahnya
usia; dan karena massa tulang merupakan fungsi beban mekanis, massa tulang
tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya
usia.
c. Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang
peranan penting dalam proses penurunan massa tulang sehubungan dengan bertambahnya
usia, terutama pada wanita post menopause. Kalsium, merupakan nutrisi yang
sangat penting. Wanita-wanita pada masa peri menopause, dengan masukan
kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak bak, akan mengakibatkan keseimbangan
kalsiumnya menjadi negatif, sedang mereka yang masukan kalsiumnya baik dan
absorbsinya juga baik, menunjukkan keseimbangan kalsium positif. Dari keadaan
ini jelas, bahwa pada wanita masa menopause ada hubungan yang erat antara
masukan kalsium dengan keseimbangan kalsium dalam tubuhnya. Pada wanita dalam
masa menopause keseimbangan kalsiumnya akan terganggu akibat masukan serta
absorbsinya kurang serta eksresi melalui urin yang bertambah. Hasil akhir
kekurangan/kehilangan estrogen pada masa menopause adalah pergeseran keseimbangan
kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium sehari.
d.
Protein
Protein juga merupakan faktor yang
penting dalam mempengaruhi penurunan massa tulang. Makanan yang kaya protein
akan mengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung sulfat melalui urin, hal
ini akan meningkatkan ekskresi kalsium. Pada umumnya protein tidak dimakan
secara tersendiri, tetapi bersama makanan lain. Apabila makanan tersebut
mengandung fosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi kalsium
melalui urin. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah pengeluaran kalsium
melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang mengandung protein berlebihan akan
mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi keseimbangan kalsium yang negative.
e. Estrogen
Berkurangnya/hilangnya estrogen
dari dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan kalsium.
Hal ini disebabkan oleh karena menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium dari
makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal.
f. Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah
banyak cenderung akan mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila
disertai masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh merokok terhadap
penurunan massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat memperbanyak
ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.
g. Alkohol
Alkoholisme akhir-akhir ini
merupakan masalah yang sering ditemukan. Individu dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan
masukan kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat.
Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti.
1.8. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan radiologik
Dilakukan untuk menilai densitas massa tulang sangat
tidak sensitif. Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah
penipisan korteks dan daerah trabekuler yang lebih lusen.Hal ini akan tampak
pada tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame vertebra.
b. Pemeriksaan densitas massa tulang
(Densitometri)
Densitometri tulang merupakan pemeriksaan yang
akurat dan untuk menilai densitas massa tulang, seseorang dikatakan menderita
osteoporosis apabila nilai BMD ( Bone Mineral Density ) berada dibawah -2,5 dan
dikatakan mengalami osteopenia (mulai menurunnya kepadatan tulang) bila nilai
BMD berada antara -2,5 dan -1 dan normal apabila nilai BMD berada diatas nilai
-1.
Beberapa
metode yang digunakan untuk menilai densitas massa tulang:
1.
Single-Photon
Absortiometry (SPA)
Pada SPA digunakan unsur
radioisotop I yang mempunyai energi photon rendah guna menghasilkan berkas
radiasi kolimasi tinggi. SPA digunakan hanya untuk bagian tulang yang mempunyai
jaringan lunak yang tidak tebalseperti distal radius dan kalkaneus.
2.
Dual-Photon
Absorptiometry (DPA)
Metode ini mempunyai cara yang sama
dengan SPA. Perbedaannya berupa sumber energi yang mempunyai photon dengan 2
tingkat energi yang berbeda guna mengatasi tulang dan jaringan lunak yang cukup
tebal sehingga dapat dipakai untuk evaluasi bagian-bagian tubuh dan tulang yang
mempunyai struktur geometri komplek seperti pada daerah leher femur dan
vetrebrata.
3.
Quantitative Computer
Tomography (QCT)
Merupakan densitometri yang paling
ideal karena mengukur densitas tulang secara volimetrik.
c. Sonodensitometri
Sebuah metode yang digunakan untuk menilai densitas
perifer dengan menggunakan gelombang suara dan tanpa adanya resiko radiasi.
d. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI dalam menilai densitas tulang trabekula melalui
dua langkah yaitu pertama T2 sumsum tulang dapat digunakan untuk menilai
densitas serta kualitas jaringan tulang trabekula dan yang kedua untuk menilai
arsitektur trabekula.
e. Biopsi tulang dan Histomorfometri
f. Merupakan pemeriksaan yang sangat penting
untuk memeriksa kelainan metabolisme tulang.
g. Radiologis
Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau
masa tulang yang menurun yang dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding
dekat korpus vertebra biasanya merupakan lokasi yang paling berat. Penipisa
korteks dan hilangnya trabekula transfersal merupakan kelainan yang sering
ditemukan. Lemahnya korpus vertebra menyebabkan penonjolan yang menggelembung
dari nukleus pulposus ke dalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas
bikonkaf.
h. CT-Scan
CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara
kuantitatif yang mempunyai nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow up.
Mineral vertebra diatas 110 mg/cm3baisanya tidak menimbulkan fraktur vetebra
atau penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cm3 ada pada hampir
semua klien yang mengalami fraktur.
i. Pemeriksaan Laboratorium
1. Kadar
Ca, P, Fosfatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang nyata.
2. Kadar
HPT (pada pascamenoupouse kadar HPT meningkat) dan Ct (terapi ekstrogen
merangsang pembentukkan Ct)
3. Kadar
1,25-(OH)2-D3 absorbsi Ca menurun.
4. Eksresi
fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat kadarnya.
1.9. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
Pengobatan:
1. Meningkatkan
pembentukan tulang, obat-obatan yg dapat meningkatkan pembentukan tulan adalah
Na-fluorida dan steroid anabolik
2. Menghambat
resobsi tulang, obat-obatan yang dapat mengahambat resorbsi tulang adalah
kalsium, kalsitonin, estrogen dan difosfonat.
Penatalaksanaan keperawatan:
1. Membantu
klien mengatasi nyeri.
2. Membantu
klien dalam mobilitas.
3. Memberikan
informasi tentang penyakit yang diderita kepada klien.
4. Memfasilitasikan
klien dalam beraktivitas agar tidak terjadi cedera.
1.10. Pencegahan
Pencegahan sebaiknya dilakukan pada usia
pertumbuhan/dewasa muda, hal ini bertujuan:
1. Mencapai
massa tulang dewasa Proses konsolidasi) yang optimal
2. Mengatur
makanan dan life style yg menjadi seseorang tetap bugar seperti:
a. Diet
mengandung tinggi kalsium (1000 mg/hari)
b. Latihan
teratur setiap hari
c. Hindari
:
-
Makanan tinggi protein
-
Minum alkohol
-
Merokok
-
Minum kopi
-
Minum antasida yang
mengandung aluminium
1.11. Komplikasi
Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif
menjadi panas, rapuh dan mudah patah. Osteoporosis sering mengakibatkan
fraktur. Bisa terjadi fraktur kompresi vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur
daerah kolum femoris dan daerah trokhanter, dan frakturcolles pada pergelangan
tangan
1.12. Prognosis
Kondisi
kronis merupakan salah satu penyebab utama kecacatan pada pria dan wanita.
Kompresi fraktur pada tulang belakang menyebabkan rasa tidak nyaman dan
mengganggu pernafasan.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
2.1. Pengkajian
1. Identitas Pasien
Umur :
Jenis
Kelamin :
a. Keluhan
Utama:
Tanyakan sejak kapan pasien
merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan utama dan tindakan apa saja
yang dilakukan pasien untuk menanggulanginya.
b. Riwayat
Penyakit Dahulu :
Apakah pasien dulu pernah menderita
penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya.
c. Riwayat
Penyakit Keluarga :
Apakah ada keluarga yang pernah
menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya.
d. Riwayat
Psikososial :
Apakah pasien merasakan kecemasan
yang berlebihan. Apakah sedang mengalami stress yang berkepanjangan.
e. Riwayat
Pemakaian Obat :
Apakah pasien pernah menggunakan
obat-obatan yang dipakai pada kulit, atau pernahkah pasien tidak tahan (alergi)
terhadap sesuatu obat.
2. Pemeriksaan fisik
a. B1
(breathing )
Inspeksi : ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada
dan tulang belakang
Palpasi : traktil fremitus seimbang kanan dan kiri
Perkusi : cuaca resonan pada seluruh lapang paru
Auskultasi : pada usia lanjut biasanya didapatkan
suara ronki
b. B2
(blood)
Pengisian kapiler kurang dari 1
detik sering terjadi keringat dingin dan pusing, adanya pulsus perifer memberi
makna terjadi gangguan pembuluh darah atau edema yang berkaitan dengan efek
obat
c. B3
(brain)
Kesadaran biasanya kompos mentis,
pada kasus yang lebih parah klien dapat mengeluh pusing dan gelisah
d. B4
(Bladder)
Produksi urine dalam batas normal
dan tidak ada keluhan padasistem perkemihan
e. B5
(bowel)
Untuk kasus osteoporosis tidak ada
gangguan eleminasi namun perlu dikaji juga frekuensi, konsistensi, warna serta
bau feses
f. B6
(Bone)
Pada inspeksi dan palpasi daerah
kolumna vertebralis, klien osteoporosis sering menunjukkan kifosis atau gibbus
(dowager’s hump) dan penurunan tinggi badan. Ada perubahan gaya berjalan,
deformitas tulang, leg-length inequality dan nyeri spinal. Lokasi fraktur yang
terjadi adalah antara vertebra torakalis 8 dan lumbalis 3
3. Pemeriksaan diagnostic/penunjang
a. Pemeriksaan
laboratorium (misalnya : kalsium serum, fosfat serum, fosfatase alkali, eksresi
kalsium urine,eksresi hidroksi prolin urine, LED)
b. Pemeriksaan
x-ray
c. Pemeriksaan
absorpsiometri
d. Pemeriksaan
Computer Tomografi (CT)
e. Pemeriksaan
biopsi
Diagnosis/kriteria diagnosis
Diagnosis osteoporosis dapat ditegakkan dari hasil
pemeriksaan :
a. Radiology
b. Pengukuran
massa tulang
c. Pemeriksaan
lab kimiawi
d. Pengukuran
densitas tulang
e. Pemeriksaan
marker biokemis
f. Biospi
g. memperhatikan
factor resiko (wanita, umur, ras, dsb)
4. Terapi/penatalaksanaan
a. Diet
kaya kalsium dan vitamin D yang mencukupi sepanjang hidup, dengan peningkatan
asupan kalsium pada permulaan umur pertengahan dapat melindungi terhadap
demineralisasi tulang
b. Pada
menopause dapat diberikan terapi pengganti hormone dengan estrogen dan
progesterone untuk memperlambat kehilangan tulang dan mencegah terjadinya patah
tulang yang diakibatkan.
c. Medical
treatment, oabt-obatan dapat diresepkan untuk menangani osteoporosis termasuk
kalsitonin, natrium fluoride, dan natrium etridonat
d. Pemasangan
penyangga tulang belakang (spinal brace) untuk mengurangi nyeri punggung
2.2. Diagnosa Keperawatan
1. Risti
injury: fraktur b.d kecelakaan ringan/jatuh
2. Nyeri
b.d adanya fraktur
3. Konstipasi
b.d imobilitas
4. Kurang
pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi
2.3. Perencanaan
1. Risti
injury: fraktur b.d kecelakaan ringan/jatuh
HYD: klien tidak mengalami jatuh atau fraktur akibat
jatuh
Intervensi:
1) Ciptakan
lingkungan yang aman dan bebas bahaya
bagi klien.
R/.
lingkungan yang bebas bahaya mengurangi risiko untuk jatuh dan mengakibatkan
fraktur
2) Beri
support untuk kebutuhan ambulansi; mengunakan alat bantu jalan atau tongkat.
R/.
Memberi support ketika berjalan mencegah tidak jatuh pada lansia
3) Bantu
klien penuhi ADL (activities daily living) dan
cegah klien dari pukulan yang tidak sengaja atau kebetulan.
R/.
Benturan yang keras menyebabkan fraktur tulang, karena
tulang sudah rapuh, porus dan kehilangan kalsium.
4) Anjurkan
klien untuk belok dan menunduk/bongkok secara perlahan dan tidak mengangkat beban yang berat.
R/. Gerakan tubuh yang cepat dapat mempermudah fraktur compression
vertebral pada klien dengan osteoporosis
5) Ajarkan
klien tentang pentingnya diet (tinggi kalsium, vitamin D) dalam mencegah
osteoporosis lebih lanjut.
R/
Diet kalsium memelihara tingkat kalsium dalam serum, mencegah kehilangan
kalsium ekstra dalam tulang.
6) Anjurkan
klien untuk menguragi kafein dan alkohol.
R/.
kafein m berlebihan meningkat
pengeluaran kalsium berlebihan dalam urine; alkohol berlebihan meningkatkan asidosis, meningkatkan reabsorpsi tulang.
7) Ajarkan
klien akan efek dari rokok dalam remodeling tulang.
R/.
rokok meningkatkan asidosis
2. Nyeri
b.d adanya fraktur
HYD: Klien mampu melakukan tindakan mandiri untuk
mengurangi nyeri, dan nyeri berkurang sampai hilang.
Intervensi:
1) Kaji
lokasi nyeri, tingkat nyeri, durasi, frekuensi dan intensitas nyeri.
R/. menentukan
intervensi keperawatan yang tepat untuk klien
2) Anjurkan klien istirahat ditempat tidur dan
anjurkan klien untuk mengambil psosisi terlentang atau miring yang nyaman bagi
kalien
R/. Peredaaan
nyeri punggung dapat dilakukan dengan istirahat di tempat tidur dengan posisi
telentang atau miring ke samping selama beberapa hari.
3) Beri
kasur padat dan tidak lentur.
R/. Memberikan
rasa nyaman bagi klien
4) Ajarkan
klien tehknik relaksasi dengan melakukan fleksi lutut.
R/. Fleksi lutut
dapat meningkatkan rasa nyaman dengan merelaksasi otot.
5) Berikan
kompres hangat intermiten dan pijatan
punggung.
R/. kompres
hangan dan pijat pada punggung memperbaiki relaksasi otot.
6) Ajarkan
dan anjurkan klien untuk menggerakkan batang tubuh sebagai satu unit dan
hindari gerakan memuntir.
R/. Gerakan tubuh memuntir dapat meningkatkan risiko
cedera.
7) Bantu
klien untuk turun dari tempat tidur.
R/Pasang korset lumbosakral untuk menyokong dan
imobilisasi sementara, meskipun alat serupa kadang terasa tidak nyaman dan
kurang bisa ditoleransi oleh kebanyakan lansia.
8) Bila
pasien sudah dapat menghabiskan lebih banyak waktunya di luar tempat tidur
perlu dianjurkan untuk sering istirahat baring untuk mengurangi rasa tak nyaman
dan mengurangi stres akibat postur abnormal pada otot yang melemah.
9) Opioid oral mungkin diperlukan untuk hari-hari
pertama setelah awitan nyeri punggung. Setelah beberapa hari, analgetika non –
opoid dapat mengurangi nyeri.
3. Konstipasi
b.d imobilitas atau ileus obstruksi
HYD: Klien tidak
mengalami konstipasi, klien dapat bab 2-3 kali dalam seminggu, konsistensi
feces lunak, dan tidak ada kolaps pada T10-L2
Intervensi:
1) Kaji
pola elimeinasi bab klien
R/. menentukan
intervensi bila ada gangguan pada eliminasi bab
2) Berikan
diet tinggi serat.
R/. Tinggi serat
membantu proses pengosongan usus dan meminimalkan kostipasi
3) Anjurkan
klien minum 1,5-2 liter/hari bila tidak ada kontraindikasi.
R/. Pemenuhan
cairan yang adekuat dapat membantu atau meminimalkan konstipasi.
4) Pantau
asupan pasien, bising usus dan aktivitas usus karena bila terjadi kolaps vertebra pada T10-L2,
maka pasien dapat mengalami ileus.
5) Kolaborasi
untuk pemberian pelunak tinja dan berikan pelunak tinja sesuai ketentuan
R/. Membantu
meminimalkan konstipasi
4. Kurang
pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi
HYD: meningkatkan
pengetahuan klien tentang osteoporosis, cara pencegahan dan program tindakan
Intervensi:
1) Kaji
tingkat pengetahuan klien tentang osteoporosis.
R/ Ajarkan pada
klien tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya oeteoporosis.
2) Anjurkan
diet atau suplemen kalsium yang memadai.
3) Timbang
Berat badan secara teratur dan modifikasi gaya hidup seperti Pengurangan
kafein, rokok dan alkohol.
R/. Hal ini
dapat membantu mempertahankan massa tulang.
4) Anjurkan
dan ajarka cara latihan aktivitas fisik sesuai kemampuan klien.
R/. Latihan
aktivitas merupakan kunci utama untuk menumbuhkan tulang dengan kepadatan
tinggi yang tahan terhadap terjadinya oestoeporosis.
5) Anjurkan
pada lansia untuk tetap membutuhkan kalsium, vitamin D, sinar matahari.
R/. Kebutuhan
kalsium, vitamin D, terpapar sinar matahari pagi yang memadai dapat meminimalkan efek oesteoporosis.
6) Berikan
Pendidikan pasien mengenai efek samping penggunaan obat. Karena nyeri lambung
dan distensi abdomen merupakan efek samping yang sering terjadi pada suplemen kalsium,
maka pasien sebaiknya meminum suplemen kalsium bersama makanan untuk mengurangi
terjadinya efek samping tersebut. Selain itu, asupan cairan yang memadai dapat
menurunkan risiko pembentukan batu ginjal.
DAFTAR PUSTAKA
Junaidi, I, 2007.
Osteoporosis - Seri Kesehatan Populer. Cetakan Kedua, Penerbit PT Bhuana Ilmu
Populer.
Lippincott dkk.
2011. Nursing Memahami Berbagai Macam Penyakit. Jakarta : PT Indeks.
Lukman &
Nurna Ningsih.2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Muskolokeletal. Jakarta : Salemba Medika.
Sudoyo, Aru dkk.
2009. Buku Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 3 Edisi 5. Jakarta : Internal Publishing.
Suryati, A,
Nuraini, S. 2006. Faktor Spesifik Penyebab Penyakit Osteoporosis Pada
Sekelompok Osteoporosis Di RSIJ, 2005. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, Vol.2,
No.2, Juli 2006:107-126
Tandra, H. 2009.
Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Osteoporosis Mengenal, Mengatasi
dan Mencegah Tulang Keropos. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
http://nursingawesome.blogspot.com/2014/03/laporan-pendahuluan-osteoporosis.html