Saturday, April 9, 2016

[KTI D3 KEPERAWATAN] ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN ISI PIKIR : WAHAM SOMATIK


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1     Waham
2.1.1  Definisi
Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat/ terus-menerus, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.(3)
Waham adalah suatu keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah, keyakinan yang tidak konsisten dengan tingkst intelektual dan latar belakang budaya, ketidak mampuan merespons stimulus internal dan eksternal melalui proses interaksi/ informasi secara akurat. (2)
Waham merupakan suatu keyakinan salah yang didasarkan pada interpretasi yang salah atau tidak realitas dari suatu pengalaman atau persepsi.(5)

2.1.2   Proses Terjadinya
Proses terjadinya waham dibagi menjadi enam(2) yaitu :
a.    Fase Lack of Human need

 
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan klien baik secara fisik maupun psikis. Secar fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-orang dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya klien sangat miskin dan menderita.
Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah. Ada juga klien yang secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara reality dengan self ideal sangat tinggi. Misalnya ia seorang sarjana tetapi menginginkan dipandang sebagai seorang dianggap sangat cerdas, sangat berpengalaman dan diperhitungkan dalam kelompoknya. Waham terjadi karena sangat pentingnya pengakuan bahwa ia eksis di dunia ini. Dapat dipengaruhi juga oleh rendahnya penghargaan saat tumbuh kembang (life span history).
b.    Fase lack of self esteem
Tidak ada tanda pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self ideal dengan self reality (kenyataan dengan harapan) serta dorongan kebutuhan yang tidak terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya. Misalnya, saat lingkungan sudah banyak yang kaya, menggunakan teknologi komunikasi yang canggih, berpendidikan tinggi serta memiliki kekuasaan yang luas, seseorang tetap memasang self ideal  yang melebihi lingkungan tersebut. Padahal self reality-nya sangat jauh. Dari aspek pendidikan klien, materi, pengalaman, pengaruh, support system semuanya sangat rendah.
c.    Fase control internal external
Klien mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Tetapi menghadapi kenyataan bagi klien adalah sesuatu yang sangat berat, karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan sekitar klien mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien itu tidak benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan keinginan menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi  tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan klien tidak merugikan orang lain.
d.    Fase environment support
Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya menyebabkan klien merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya norma (Super Ego) yang ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat berbohong.
e.    Fase comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat klien menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya klien lebih sering menyendiri dan menghindar interaksi sosial (Isolasi sosial).
f.        Fase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu keyakinan yang salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul sering berkaitan dengan traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang). Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain. Penting sekali untuk mengguncang keyakinan klien dengan cara konfrontatif serta memperkaya keyakinan relegiusnya bahwa apa-apa yang dilakukan menimbulkan dosa besar serta ada konsekuensi sosial.
2.1.3   Faktor Presdisposisi
a.    Faktor perkembangan
Hambatan perkembangan akan menggangu hubungan interpersonal seseorang. Hal ini dapat meningkatkan stress dan ansietas yang berahir dengan gangguan persepsi, klien menekankan perasaan nya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.
b.    Faktor sosial budaya
Seseorang yang merasa di asingkan dan kesepian dapat menyebabkan timbul nya waham
c.    Faktor psikologis
Hubungan yang tidak harmonis, peran ganda bertentangan dapat menimbulkan ansietas dan berakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan
d.   Faktor biologis
Waham di yakini terjadi karena adanya atrofi otak, pembesaran ventrikel di otak atau perubahan pada sel kortikal dan lindik
e.    Faktor genetik
Paling sering pada kembar satu telur
2.1.4   Faktor Presipitasi
a.    Faktor sosial budaya
Waham dapat di picu karena ada nya perpisahan dengan orang yang berarti atau di asingkan dari kelompok.
b.    Faktor biokimia
Dopamin, norepinepin, dan zat halusinogen lain nya di duga dapat menjadi penyebab waham pada seseorang.
c.    Faktor psikologis
Kecemasan yang memanjang dan terbatasan nya kemampuan untuk mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang menyenangkan.
2.1.5   Rentang Respon
Rentang perilaku klien dapat diidentifikasi sepanjang rentang respon sehingga perawat dapat menilai apakah repson klien adaptif atau maladaptif.
Rentang respon neurobiologi :
Adaptif                                                                                       Maladaptif
 


Pikiran Logis             Proses pikir                 gangguan proses pikir: waham
Persepsi akurat          kadang ilusi                 PSP : halusinasi
Emosi konsisten        emosi +/-                     Kerusakan emosi
Perilaku sesuai          perilaku tidak sesuai    perilaku tidak sesuai
Hubungan sosial       menarik diri                 Isoalsi sosial terorganisir
Bagan 2.1 Rentang Respon Neurobiologi
Perilaku yang berhubungan  dengan respon biologis maladaptif :
a.    Delusi
1)   Waham merupakan pikiran (pandangan) yang tidak rasional
2)   Berwujud sifat kemegahan diri
3)   Pandangan yang tidak berdasarkan kenyataan
4)   Gangguan berpikir, daya ingat, disorientasi, afek labil
b.    Halusinasi
1)   Pengalaman indera tanpa perangsang pada alat indera yang bersangkutan
2)   Perasaan ada sesuatu tanpa adanya reangsangan sensorik, misalnya penglihatan, rasa, bau, atau sensorium yang sepenuhnya merupakan imajinasi
3)   Mengalami dunia seperti dalam mimpi
c.    Kerusakan proses emosi
1)   Luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat
2)   Keadaan reaksi psikologis dan fisiologis seperti kegembiraan
3)   Marah, amuk, depresi, tidak berespon
d.   Perilaku yang tidak terorganisir
1)   Tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan / lingkungan yang tidak teratur
2)    Kehilangan kendali terhadap impuls
e.    Isolasi sosial
1)   Menarik diri secara sosial
2)   Menyendiri / mengasingkan diri dari kelompok
2.1.6        Manifestasi Klinis (10)
a.    Kognitif :
1)   Tidak mampu membedakan nyata dengan tidak nyata.
2)   Individu sangat percaya pada keyakinanya
3)   Sulit berfikir realita
4)   Tidak mampu mengambil keputusan


b.    Afektif :
1)   Situasi tidak sesuai dengan kenyataan
2)   Afek tumpul
c.    Perilaku dan hubungan sosial
1)   Hipersensitif
2)   Hubungan interpersonal dengan orang lain dangkal
3)   Depresi
4)   Ragu-ragu
5)   Mengancam secara verbal
6)   Aktifitas tidak tepat
7)   Streotif
8)   Impulsive
9)   Curiga
d.   Fisik
1)   Higiene kurang
2)   Muka pucat
3)   Sering menguap
4)   BB menurun

2.1.7   Klasifikasi
Tanda dan gejala waham berdasarkan jenisnya(4) meliputi :
a.    Waham kebesaran
Meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh : “saya ini titisan Bung Karno, puya banyak perusahaan, punya rumah diberbagai negara dan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.”
b.    Waham curiga
Meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan/ mencederai dirinya, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh :”Banyak polisi mengintai saya, tetangga saya ingin menghancurkan hidup saya, suster akan meracuni makananya”.
c.    Waham Agama
Memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh :”Tuhan telah menunjuk saya menjadi Wali, saya harus terus menerus memakai pakaian putih setiap hari agar masuk surga”
d.   Waham Somatik
Meyakini bahwa tubuh klien atau bagian tubuhnya terganggu, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai keyataan.
Contoh :”Sumsum tulang saya kosong, saya pasti terserang kanker, dalam tubuh saya banyak kotoran, tubuh saya telah membusuk”.
e.    Waham Nihilistik
Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/ meninggal, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh:”saya sudah menghilang dari dunia ini, semua yang ada disini adalah roh-roh, sebenarnya saya sudah tidak ada di dunia”.
Kategori Waham :
a.    Waham sistematis: konsisten,  berdasarkan pemikiran mungkin  terjadi walaupun hanya secara  teoritis.
b.    Waham nonsistematis: tidak  konsisten, yang secara logis dan  teoritis tidak mungkin.
2.1.8  Penatalaksanaan
Penanganan pasien dengan gangguan jiwa waham antara lain :
a.    Psikofarmalogi
1)   Litium Karbonat
Litium Karbonat adalah jenis litium yang paling sering digunakan untuk mengatasi gangguan bipolar, menyusul kemudian litium sitial. Sejak disahkan oleh “Food and Drug Administration” (FDA). Pada 1970 untuk mengatasi mania akut litium masih efektif dalam menstabilkan mood pasien dengan gangguan bipolar. Meski demikian, efek samping yang dilaporkan pada gangguan litium cukup serius. Efek yang ditimbulkan hampir serupa dengan efek mengkonsumsi banyak garam, yakni tekanan darah tinggi, retensi air, dan konstipasi. Oleh karena itu, selama penggunaan obat ini harus dilakukan tes darah secara teratur untuk menentukan kadar litium.

2)   Haloperidol
     Haloperidol merupakan obat antipsikotik (mayor tranquiliner) pertama dari turunan butirofenon. Mekanisme kerjanya yang pasti tidak diketahui.
3)   Karbamazepin
Karbamazepin terbukti efektif, dalam pengobatan kejang psikomotor, serta neuralgia trigeminal. Karbamazepin secara kimiawi tidak berhubungan dengan obat antikonvulsan lain maupun obat-obat lain yang digunakan untuk mengobati nyeri pada neuralgia trigeminal.
b.    Pasien hiperaktif atau agitasi anti psikotik low potensial
Penatalaksanaan ini berarti mengurangi dan menghentikan agitasi untuk pengamanan pasien. Hal ini berkaitan dengan penggunaan obat anti psikotik untuk pasien waham. Dimana pedoman penggunaan antipsikotik adalah:
1)   Tentukan target symptom
2)   Antipsikosis yang telah berhasil masa lalu sebaiknya tetap digunakan
3)   Penggantian antipsikosis baru dilakukan setelah penggunaan antipsikosis yang lama 4-6 minggu.
4)   Hindari polifarmasi
5)   Dosis maintenans adalah dosis efektif terendah.
Contoh obat antipsikotik adalah:
1)   Antipsikosis atipikal (olanzapin, risperidone).
2)   Tipikal (chlorpromazine, haloperidol), chlorpromazine 25-100mg
c.    Penarikan diri high potensial
            Selama seseorang mengalami waham. Dia cenderung menarik diri dari pergaulan dengan orang lain dan cenderung asyik dengan dunianya sendiri (khayalan dan pikirannya sendiri). Oleh karena itu, salah satu penatalaksanaan pasien waham adalah penarikan diri high potensial. Hal ini berarti penatalaksanaannya ditekankan pada gejala dari waham itu sendiri, yaitu gejala penarikan diri yang berkaitan dengan kecanduan morfin biasanya dialami sesaat sebelum waktu yang dijadwalkan berikutnya, penarikan diri dari lingkungan sosial.
d.   ECT tipe katatonik
Electro Convulsive Terapi (ECT) adalah sebuah prosedur dimana arus listrik melewati otak untuk memicu kejang singkat. Hal ini tampaknya menyebabkan perubahan dalam kimiawi otak yang dapat mengurangi gejala penyakit mental tertentu, seperti skizofrenia katatonik. ECT bisa menjadi pilihan jika gejala yang parah atau jika obat-obatan tidak membantu meredakan katatonik episode.
e.    Psikoterapi
     Walaupun obat-obatan penting untuk mengatasi pasien waham, namun psikoterapi juga penting. Psikoterapi mungkin tidak sesuai untuk semua orang, terutama jika gejala terlalu berat untuk terlibat dalam proses terapi yang memerlukan komunikasi dua arah. Yang termasuk dalam psikoterapi adalah terapi perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, terapi supportif.
2.1.9  Pohon Masalah (2)
Effect: Resiko Tinggi Perilaku Kekerasan

Core Problem: Gangguan Isi Pikir: Waham

Causa: Isolasi Sosial

Harga Diri Rendah Kronis
  Bagan 2.2  Pohon Masalah Waham
2.2     Teori Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan adalah satu pendekatan untuk pemecahan masalah yang memampukan perawat untuk mengatur dan memberikan asuhan keperawatan. (6)
Proses keperawatan adalah proses yang terdiri dari 5 tahap, yaitu pengkajian keperawatan, identifikasi/ analisis masalah, intervensi, implementasi dan evaluasi. (7)
2.2.1 Pengkajian
Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang di hadapi pasien baik fisik, mental, sosial maupun spiritual dapat ditentukan (8). Tahap pengkajian terdiri dari kegiatan yaitu pengumpulan data, analisa data, dan perumusan diagnosa keperawatan.
1.    Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan terdiri atas :
a.    Identitas
1)   Identitas Klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk, tanggal pengkajian, ruang rawat, nomor  medrek, diagnosa medis dan alamat.
2)   Identitas Penanggung jawab
Terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat dan hubungan dengan klien.
3)   Keluhan utama / alasan masuk
Tanyakan pada keluarga / klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga datang ke Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah dan perkembangan yang dicapai.
4)   Riwayat Penyakit Sekarang
Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami, penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal. 
Dapat dilakukan pengkajian pada keluarga faktor yang mungkin mengakibatkan terjadinya gangguan :
a)   Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon psikologis dari klien.
b)   Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau SSP, pertumbuhan dan perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan anak-anak.
c)   Sosial Budaya
Seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan, kerusuhan, kerawanan), kehidupan yang terisolasi serta stress yang menumpuk.
5)   Aspek fisik / biologis
Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital: TD, nadi, suhu, pernafasan. Ukur tinggi badan dan berat badan, kalau perlu kaji fungsi organ kalau ada keluhan.
6)   Aspek psikososial
a)   Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi yang dapat menggambarkan hubungan klien dan keluarga, masalah yang terkait dengan komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh.
b)   Konsep diri
·      Citra tubuh: mengenai persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian yang disukai dan tidak disukai.
·      Identitas diri: status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan klien terhadap status dan posisinya dan kepuasan klien sebagai laki-laki / perempuan.
·      Peran: tugas yang diemban dalam keluarga / kelompok dan masyarakat dan kemampuan klien dalam melaksanakan tugas tersebut.
·      Ideal diri: harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas, lingkungan dan penyakitnya.
·      Harga diri: hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan penghargaan orang lain terhadap dirinya, biasanya terjadi pengungkapan kekecewaan terhadap dirinya sebagai wujud harga diri rendah.
c)   Hubungan sosial dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan, kelompok yang diikuti dalam masyarakat.
d)  Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah.
7)   Status mental
Nilai penampilan klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien, aktivitas motorik klien, alam perasaan klien (sedih, takut, khawatir), afek klien, interaksi selama wawancara, persepsi klien, proses pikir, isi pikir, tingkat kesadaran, memori, tingkat konsentasi dan berhitung, kemampuan penilaian dan daya tilik diri.
8)   Kebutuhan persiapan pulang
a)   Kemampuan makan klien, klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan.
b)   Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC serta membersihkan dan merapikan pakaian.
c)   Mandi klien dengan cara berpakaian, observasi kebersihan tubuh klien.
d)  Istirahat dan tidur klien, aktivitas di dalam dan di luar rumah.
e)   Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksi yang dirasakan setelah minum obat.
9)   Masalah psikososial dan lingkungan
Dari data keluarga atau klien mengenai masalah yang dimiliki klien.
10)    Aspek medik
Terapi yang diterima oleh klien: ECT, terapi antara lain seperti terapi psikomotor, terapi tingkah laku, terapi keluarga, terapi spiritual, terapi okupasi, terapi lingkungan. Rehabilitasi sebagai suatu refungsionalisasi dan perkembangan klien supaya dapat melaksanakan sosialisasi secara wajar dalam kehidupan bermasyarakat.

2.2.2  Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (8)
Perumusan diagnosa keperawatan :
1.    Aktual          : Menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data klinik yang ditemukan.
2.    Resiko          : Menjelaskan masalah kesehatan nyata akan terjadi jika tidak di lakukan intervensi.
3.    Kemungkinan : Menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan masalah keperawatan kemungkinan.
4.    Wellnes         : Keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga, atau masyarakat dalam transisi dari tingkat sejahtera tertentu ketingkat sejahtera yang lebih tinggi.
5.    Syndrom       : Diagnosa yang terdiri dari kelompok diagnosa keperawatan aktual dan resiko tinggi yang diperkirakan muncul/ timbul karena suatu kejadian atau situasi tertentu.
Diagnosa keperawatan (2) yang muncul pada pasien waham adalah:
1.    Resiko tinggi perlaku kekerasan
2.    Gangguan isi pikir : Waham
3.    Isolasi sosial
4.    Harga diri rendah kronis

2.2.3  Intervensi Keperawatan
Semua tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini kestatus kesehatan yang diuraikan dalam hasil yang di harapkan (10)
Rencana asuhan keperawatan tertulis mengatur pertukaran informasi oleh perawat dalam laporan pertukaran dinas. Rencana keperawatan tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka panjang (8)
1.    Diagnosa Keperawatan 1 (9)
Perilaku kekerasan
Tujuan :
Pasien mampu :
a.    Mengidentifikasi penyebab dan tanda perilaku kekerasan
b.    Menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukan
c.    Meneybutkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan
d.   Menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan
e.    Mengontrol perilaku kekerasanya secara :
1)   Fisik
2)   Sosial/ Verbal
3)   Spiritual
4)   Terapi psikofarmaka (patah obat)
SP 1 (Pasien)
a.    Kriteria Hasil
Setelah ... pertemuan, Pasien mampu :
1)   Meneyebutkan penyebab, tanda, gejala dan akibat perilaku kekerasan
2)   Memperagakan cara fisik 1 untuk mengontrol perilaku kekerasan
b.    Intervensi
1)   Identifikasi penyebab, tanda dan gejala serta akibat perilaku kekerasan
2)   Latih cara fisik 1
3)   Tarik nafas dalam
4)   Masukan dalm jadwal harian pasien
SP 2 (Pasien)
a.    Kriteria Hasil
Setelah ... pertemuan, pasien mampu :
1)   Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan
2)   Memperagakan cara fisik untuk mengontrol perilaku kekerasan
b.    Intervensi
1)   Evaluasi kegiatan yang lalu SP 1
2)   Latih cara fisik 2
3)   Pukul kasur/ bantal
4)   Masukan dalam jadwal harian pasien
SP 3 (Pasien)
a.    Kriteria Hasil
Setelah... pertemuan, pasien mampu :
1)   Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan
2)   Memperagakan cara sosial/ verbal untuk mengontrol perilaku kekerasan
b.    Intervensi
1)   Evaluasi kegiatan yang lalu SP 1 dan SP 2
2)   Latih secara sosial/ verbal
3)   Menolak dengan baik
4)   Meminta dengan baik
5)   Mengungkapkan dengan baik
6)   Masukan dalam jadwal harian pasien
SP 4 (Pasien)
a.     Kriteria hasil
Setelah... pertemuan, pasien mampu :
1)   Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan
2)   Memperagakan cara spiritual
b.    Intervensi
1)   Evaluasi kegiatan yang lalu SP 1, SP 2 dan SP 3
2)   Latih secara spiritual :
a)   Berdoa
b)   Sholat
3)   Masukan dalam jadwal harian pasien
SP 5 (Pasien)
a.    Kriteria Hasil
Setelah... pertemuan pasien mampu :
b.    Intervensi
1)   Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1, 2, 3, dan 4)
2)   Latih patuh obat
a)   Minum obat secara teratur dengan prinsip 6B
b)   Susun jadwal minum obat secara teratur
3)   Masukan dalam jadwal harian pasien
2.    Diagnosa Keperawatan 2 (9)
Gangguan proses pikir : waham
Tujuan :
a.    Pasien mampu :
1)   Berorientasi kepada realitas secara bertahap
2)   Pasien dapat memenuhi kebutuhan dasar
3)   Mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan
4)   Menggunakan obat dengan prinsip 6 benar
b.    Keluarga mampu:
1)      Mengidentifikasi waham pasien
2)      Memfasilitasi pasien untuk memenuhi kebutuhanya
SP 1 (Pasien)
a.    Kriteria Hasil
Setelah pertemuan, pasien mampu memenuhi kebutuhanya
b.    Intervensi
1)  Membina hubungan saling peraya
2)   Mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan
3)   Mempraktikan pemenuhan kebutuhan yang tidak terpenuhi
SP 2 (Pasien)
a.       Kriteria Hasil
Setelah pertemuan, pasien mampu :
1)   Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan
2)   Mampu menyebutkan serta memilih kemampuan yang dimiliki
b.      Intervensi
1)   Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1)
2)   Mengidentifikasikan kemampuan positif pasien dan membantu mepraktekanya
3)   Masukan dalam jadwal pasien
SP 3 (Pasien)
a.    Kriteria Hasil
Setelah pertemuan, pasien mengetahui cara serta mampu minum obat yang benar
b.    Intervensi
1)   Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1 & SP 2)
2)   Diskusikan tentang obat yang diminum
3)   Latih minum obat yang benar
4)   Masukan dalam jadwal harian pasien
SP 1 (Keluarga)
a.       Kriteria Hasil
Setelah pertemuan, keluarga mampu:
1)   Mengidentifikasi masalah
2)   Menjelaskan cara merawat pasien
3)   Mempertahankan program pengobatan pasien secara optimal
b.    Intervensi
1)   Identifikasi masalah keluarga dalam merawat pasien
2)   Jelaskan proses terjadinya waham
3)   Jelaskan tentang cara merawat pasien waham
4)   Latih (simulasi) cara merawat
5)   RTL keluarga/ jadwal merawat pasien
SP 2 (Keluarga)
a.    Kriteria Hasil
Setelah pertemuan, keluarga mampu :
1)   Menyebutkan kegiatan yang sesuai dilakukan
2)   Mampu memperagakan cara merawat pasien
b.    Intervensi
1)   Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1)
2)   Latih keluarga cara merawat (langsung ke pasien)
3)   RTL keluarga
SP 3 (Keluarga)
a.    Kriteria
Setelah pertemuan, keluarga mampu : Mengidentifikasi masalah dan mampu menjelaskan cara merawat pasien
b.    Intervensi
1)   Evaluasi kemampuan keluarga
2)   Evaluasi kemampuan pasien
3)   RTL Kleuarga :
a)   Follow up
b)   Rujukan
3.    Diagnosa Keperawatan 3 (9)
Isolasi Sosial
Tujuan
Pasien mampu :
a.    Menyadari penyebab isolasi sosial
b.    Berinteraksi dengan orang lain

SP 1 (Pasien)
a.       Kriteria Hasil
Setelah ... pertemuan, pasien mampu :
1)   Membina hubungan saling percaya
2)   Menyadari penyebab isolasi sosial
3)   Keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain
4)   Melakukan interaksi dengan orang lain secara bertahap
b.      Intervensi
1)   Identifikasi penyebab
a)   Siapa yang satu rumah dengan pasien?
b)   Siapa yang dekat dengan pasien? Apa sebabnya?
c)   Siapa yang tidak dekat dengan pasien? Apa sebabnya?
2)   Tanyakan keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain
a)   Tanyakan pendapat pasien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain
b)   Tanyakan apa yang menyebabkan pasien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain
c)   Diskusikan keuntungan bila pasien memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka
d)  Diskusikan kerugian bila pasien hanya mngurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain
e)   Jelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik pasien
3)   Latih berkenalan
a)   Jelaskan kepada klien cara berinteraksi dengan orang lain
b)   Berikan contoh cara berinteraksi dengan orang lain
c)   Beri kesempatan pasien mempraktekan cara berinteraksi dengan orang lain yang dilakukan dihadapan perawat
d)  Mulailah bantu pasien berinteraksi dengan satu teman/ anggota keluarga
e)   Bila pasien sudah menunjukan kemajuan, tingkatkan jumlah interaksi dengan 2, 3, 4 orang dan seterusnya
f)    Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh pasien
g)   Siap mendengarkan ekspresi perasaan pasien setelah berinteraksi dengan orang lain, mungkin pasien akan mengungkapkan keberhasilan atau kegagalanya, beri dorongan terus menerus agar pasien tetap semangat meningkatkan interaksinya
4)   Masukan jadwal kegiatan pasien
SP 2 (Pasien)
Intervensi
1)   Evaluasi SP1
2)   Latih berhubungan sosial secara bertahap
3)   Masukan dalam jadwal kegiatan pasien
SP 3 (Pasien)
Intervensi
1)   Evaluasi SP 1 & 2
2)   Latih cara berkenalan dengan 2 orang atau lebih
3)   Masukan jadwal kegiatan pasien
4.    Diagnosa Keperawatan 4 (9)
Gangguan Konsep Diri; Harga Diri Rendah
Tujuan :
a.    Klien mampu:
1)   Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2)   Menilai kemampuan yang dapat digunakan
3)   Menetapkan/ memilih kegiatan yang sesuai dengan kemampuan
4)   Merencanakan kegiatan yang sudah dilatihnya
b.    Keluarga mampu: Merawat klien dengan harga diri rendah dirumah dan menjadi sistem pendukung yang efektif bagi klien.
SP 1 (Pasien)
a.    Kriteria Hasil
Setelah ...x pertemuan, klien mampu:
1)   Mengidentifikasi kemampuan aspek positif yang dimiliki
2)   Memiliki kemampuan yang dapat digunakan
3)   memilih kegiatan sesuai kemampuan
4)   Melakukan kegiatan yang sudah dipilih
5)   merencanakan kegiatan yang sudah dilatih
b.    Intervensi
1)   Identifikasi kemampuan positif yang dimiliki.
a)   Diskusikan bahwa pasien masih memiliki sejumlah kemampuan dan aspek positif seperti kegiatan pasien dirumah adanya keluarga dan lingkungan terdekat pasien
b)   Beri pujian yang realistis dan hindarkan setiap kali bertemu dengan klien penilaian yang negatif
2)   Nilai kemampuan yang dapat dilakukan saat ini
a)   Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih digunakan saat ini
b)   Bantu klien menyebutkannya dan memberi penguatan terhadap kemampuan diri yang dingkapkan oleh klien
c)   Perlihatkan respon yang kondusif dan menjadi pendengar yang aktif.
3)   Pilih kemampuan yang akan dilatih.
a)   Diskusikan dengan klien beberapa aktifitas yang dapat dilakukan dan dipilih sebagai kegiatan yang akan klien lakukan sehari-hari.
b)   Bantu klien menetapkan aktifitas mana yang dapat klien lakukan secara mandiri.
·      Aktifitas yang memerlukan bantuan minimal dari keluarga.
·      Aktifitas apa saja yang perlu bantuan penuh dari keluarga atau lingkungan terdekat klien.
·      Beri contoh cara pelaksanaan aktifitas yang dapat dilakukan klien.
·      Susun bersama klien aktifitas atau kegiatan sehari-hari klien.
4)   Nilai kemampuan pertama yang telah dipilih.
a)   Diskusikan dengan klien untuk menetapkan urutan kegiatan (yang sudah dipilih klien) yang akan dilatihkan.
b)   Bersama klien dan keluarga memperagakan beberapa kegiatan yang dilakukan klien.
c)   Beri dukungan dan pujian yang nyata sesuai kemajuan yang diperlihatkan klien.
5)   Masukan dalam jadwal kegiatan klien.
a)   Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan.
b)   Beri pujian atas aktifitas/ kegiatan yang yang dapat dilakukan klien setiap hari.
c)   Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi dan perubahan.
d)  Susun daftar aktifitas yang sudah dilatihkan bersama klien dan keluarga.
e)   Beri kesempatan mengungkapkan perasaanya setelah pelaksanaan kegiatan.
f)    Yakinkan bahwa keluarga mendukung setiap aktifitas yang dilakukan klien.
SP 2 (Pasien)
Intervensi :
1)   Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1).
2)   Memilih kemampuan kedua yang dapat dilakukan.
3)   Masukan dalam jadwal kegiatan klien.
SP 1 (Keluarga)
a.    Kriteria Hasil.
Setelah ...x pertemuan, keluarga mampu :
1)   Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki klien.
2)   Menyediakan fasilitas untuk klien melakukan kegiatan.
3)   Mendorong klien melakukan kegiatan.
4)   Memuji klien saat klien dapat melakukan kegiatan.
5)   Membantu melatih klien.
6)   Membantu menyusun jadwal kegiatan klien.
7)   Membantu perkembangan klien.
b.    Intervensi
1)   Identifikasi masalah yang dirasakan dalma merawat klien.
2)   Jelaskan proses terjadinya HDR.
3)   Jelaskan tentang cara merawat klien.
4)   Main peran dalam merawat klien HDR.
5)   Susun RTL keluarga/ jadwal keluarga untuk merawat klien.
SP 2 (Keluarga)
Intervensi :
1)   Evaluasi kemampuan SP1.
2)   Latih keluarga langsung ke klien.
3)   Menyususn RTL keluarga/ jadwal keluarga untuk merawat Klien.
SP 3 (Keluarga)
Intervensi :
1)   Evaluasi kemasmpuan keluarga.
2)   Evaluasi kemampuan Klien.
3)   RTL Keluarga.
a)   Follow up.
b)   Rujukan.
2.2.4   Implementasi Keperawatan
Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien. 
2.2.5   Evaluasi
1.    Klien percaya dengan perawat, terbuka untuk ekspresi waham
2.    Klien menyadari kaitan kebutuhan yang tidak terpenuhi dengan keyakinannya (waham) saat ini
3.    Klien dapat melakukan upaya untuk mengontrol waham
4.    Keluarga mendukung dan bersikap terapeutik terhadap klien
5.    Klien menggunakan obat sesuai program



















No comments:

Post a Comment