BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Waham
2.1.1 Definisi
Waham
adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat/ terus-menerus,
tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.(3)
Waham
adalah suatu keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang
salah, keyakinan yang tidak konsisten dengan tingkst intelektual dan latar
belakang budaya, ketidak mampuan merespons stimulus internal dan eksternal
melalui proses interaksi/ informasi secara akurat. (2)
Waham
merupakan suatu keyakinan salah yang didasarkan pada interpretasi yang salah
atau tidak realitas dari suatu pengalaman atau persepsi.(5)
2.1.2 Proses Terjadinya
Proses terjadinya
waham dibagi menjadi enam(2) yaitu :
a. Fase Lack of Human need
Waham diawali dengan terbatasnya
kebutuhan-kebutuhan klien baik secara fisik maupun psikis. Secar fisik klien
dengan waham dapat terjadi pada orang-orang dengan status sosial dan ekonomi
sangat terbatas. Biasanya klien sangat miskin dan menderita.
Keinginan
ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya untuk melakukan kompensasi
yang salah. Ada juga klien yang secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi
kesenjangan antara reality dengan self ideal sangat tinggi. Misalnya ia
seorang sarjana tetapi menginginkan dipandang sebagai seorang dianggap sangat
cerdas, sangat berpengalaman dan diperhitungkan dalam kelompoknya. Waham
terjadi karena sangat pentingnya pengakuan bahwa ia eksis di dunia ini. Dapat
dipengaruhi juga oleh rendahnya penghargaan saat tumbuh kembang (life span history).
b. Fase lack of self esteem
Tidak
ada tanda pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self ideal dengan self reality (kenyataan dengan harapan) serta dorongan kebutuhan
yang tidak terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya.
Misalnya, saat lingkungan sudah banyak yang kaya, menggunakan teknologi
komunikasi yang canggih, berpendidikan tinggi serta memiliki kekuasaan yang
luas, seseorang tetap memasang self ideal yang melebihi lingkungan tersebut. Padahal self reality-nya sangat jauh. Dari aspek
pendidikan klien, materi, pengalaman, pengaruh, support system semuanya sangat rendah.
c. Fase control internal
external
Klien
mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia katakan
adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan kenyataan.
Tetapi menghadapi kenyataan bagi klien adalah sesuatu yang sangat berat, karena
kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan diterima
lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum
terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan sekitar klien mencoba
memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien itu tidak benar, tetapi
hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan keinginan
menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan
alasan pengakuan klien tidak merugikan orang lain.
d. Fase environment support
Adanya
beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya menyebabkan klien
merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut
sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari sinilah mulai
terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya norma (Super Ego) yang
ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat berbohong.
e. Fase comforting
Klien
merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap bahwa semua
orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan sering disertai
halusinasi pada saat klien menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya klien
lebih sering menyendiri dan menghindar interaksi sosial (Isolasi sosial).
f. Fase improving
Apabila tidak adanya
konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu keyakinan yang salah pada
klien akan meningkat. Tema waham yang muncul sering berkaitan dengan traumatik
masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang).
Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan
ancaman diri dan orang lain. Penting sekali untuk mengguncang keyakinan klien
dengan cara konfrontatif serta memperkaya keyakinan relegiusnya bahwa apa-apa
yang dilakukan menimbulkan dosa besar serta ada konsekuensi sosial.
2.1.3 Faktor Presdisposisi
a.
Faktor perkembangan
Hambatan perkembangan
akan menggangu hubungan interpersonal seseorang. Hal ini dapat meningkatkan
stress dan ansietas yang berahir dengan gangguan persepsi, klien menekankan
perasaan nya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.
b.
Faktor sosial budaya
Seseorang yang merasa di
asingkan dan kesepian dapat menyebabkan timbul nya waham
c.
Faktor psikologis
Hubungan yang tidak
harmonis, peran ganda bertentangan dapat menimbulkan ansietas dan berakhir
dengan pengingkaran terhadap kenyataan
d.
Faktor biologis
Waham di yakini terjadi
karena adanya atrofi otak, pembesaran ventrikel di otak atau perubahan pada sel
kortikal dan lindik
e.
Faktor genetik
Paling sering pada kembar satu telur
2.1.4 Faktor Presipitasi
a.
Faktor sosial budaya
Waham dapat di picu
karena ada nya perpisahan dengan orang yang berarti atau di asingkan dari
kelompok.
b.
Faktor biokimia
Dopamin, norepinepin,
dan zat halusinogen lain nya di duga dapat menjadi penyebab waham pada
seseorang.
c.
Faktor psikologis
Kecemasan yang memanjang dan terbatasan nya
kemampuan untuk mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan koping untuk
menghindari kenyataan yang menyenangkan.
2.1.5 Rentang Respon
Rentang perilaku klien dapat
diidentifikasi sepanjang rentang respon sehingga perawat dapat menilai apakah
repson klien adaptif atau maladaptif.
Rentang respon neurobiologi :
Adaptif Maladaptif
Pikiran Logis Proses
pikir gangguan proses pikir: waham
Persepsi akurat kadang
ilusi PSP : halusinasi
Emosi konsisten emosi
+/- Kerusakan emosi
Perilaku sesuai perilaku
tidak sesuai perilaku tidak sesuai
Hubungan sosial menarik
diri Isoalsi sosial
terorganisir
Bagan 2.1 Rentang Respon
Neurobiologi
Perilaku
yang berhubungan dengan respon biologis
maladaptif :
a.
Delusi
1)
Waham merupakan pikiran (pandangan) yang tidak rasional
2)
Berwujud sifat kemegahan diri
3)
Pandangan yang tidak berdasarkan kenyataan
4)
Gangguan berpikir, daya ingat, disorientasi, afek labil
b.
Halusinasi
1) Pengalaman indera tanpa perangsang
pada alat indera yang bersangkutan
2)
Perasaan ada sesuatu tanpa adanya reangsangan sensorik, misalnya
penglihatan, rasa, bau, atau sensorium yang sepenuhnya merupakan imajinasi
3)
Mengalami dunia seperti dalam mimpi
c.
Kerusakan proses emosi
1)
Luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat
2)
Keadaan reaksi psikologis dan fisiologis seperti
kegembiraan
3)
Marah, amuk, depresi, tidak berespon
d.
Perilaku yang tidak terorganisir
1)
Tanggapan atau reaksi individu terhadap
rangsangan / lingkungan yang tidak teratur
2)
Kehilangan kendali terhadap impuls
e.
Isolasi sosial
1)
Menarik diri secara sosial
2)
Menyendiri / mengasingkan diri dari kelompok
2.1.6
Manifestasi Klinis (10)
a.
Kognitif :
1)
Tidak mampu membedakan nyata
dengan tidak nyata.
2)
Individu sangat percaya pada
keyakinanya
3)
Sulit berfikir realita
4)
Tidak mampu mengambil keputusan
b.
Afektif :
1)
Situasi tidak sesuai dengan
kenyataan
2)
Afek tumpul
c.
Perilaku dan hubungan sosial
1)
Hipersensitif
2)
Hubungan interpersonal dengan
orang lain dangkal
3)
Depresi
4)
Ragu-ragu
5)
Mengancam secara verbal
6)
Aktifitas tidak tepat
7)
Streotif
8)
Impulsive
9)
Curiga
d.
Fisik
1)
Higiene kurang
2)
Muka pucat
3)
Sering menguap
4)
BB menurun
2.1.7 Klasifikasi
Tanda
dan gejala waham berdasarkan jenisnya(4) meliputi :
a.
Waham kebesaran
Meyakini
bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, diucapkan berulang kali
tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh
: “saya ini titisan Bung Karno, puya banyak perusahaan, punya rumah diberbagai
negara dan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.”
b.
Waham curiga
Meyakini
bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan/ mencederai dirinya,
diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh
:”Banyak polisi mengintai saya, tetangga saya ingin menghancurkan hidup saya,
suster akan meracuni makananya”.
c.
Waham Agama
Memiliki
keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang kali
tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh
:”Tuhan telah menunjuk saya menjadi Wali, saya harus terus menerus memakai
pakaian putih setiap hari agar masuk surga”
d.
Waham Somatik
Meyakini
bahwa tubuh klien atau bagian tubuhnya terganggu, diucapkan berulangkali tetapi
tidak sesuai keyataan.
Contoh
:”Sumsum tulang saya kosong, saya pasti terserang kanker, dalam tubuh saya
banyak kotoran, tubuh saya telah membusuk”.
e.
Waham Nihilistik
Meyakini
bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/ meninggal, diucapkan berulang kali
tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh:”saya sudah
menghilang dari dunia ini, semua yang ada disini adalah roh-roh, sebenarnya
saya sudah tidak ada di dunia”.
Kategori Waham :
a.
Waham sistematis:
konsisten, berdasarkan pemikiran
mungkin terjadi walaupun hanya
secara teoritis.
b.
Waham nonsistematis: tidak konsisten, yang secara logis dan teoritis tidak mungkin.
2.1.8 Penatalaksanaan
Penanganan pasien dengan gangguan jiwa waham antara lain :
a. Psikofarmalogi
1) Litium Karbonat
Litium Karbonat adalah jenis litium yang paling
sering digunakan untuk mengatasi gangguan bipolar, menyusul kemudian litium
sitial. Sejak disahkan oleh “Food and
Drug Administration” (FDA). Pada 1970 untuk mengatasi mania akut litium
masih efektif dalam menstabilkan mood pasien dengan gangguan bipolar. Meski
demikian, efek samping yang dilaporkan pada gangguan litium cukup serius. Efek
yang ditimbulkan hampir serupa dengan efek mengkonsumsi banyak garam, yakni
tekanan darah tinggi, retensi air, dan konstipasi. Oleh karena itu, selama
penggunaan obat ini harus dilakukan tes darah secara teratur untuk menentukan
kadar litium.
2) Haloperidol
Haloperidol
merupakan obat antipsikotik (mayor
tranquiliner) pertama dari turunan butirofenon. Mekanisme kerjanya yang
pasti tidak diketahui.
3) Karbamazepin
Karbamazepin terbukti efektif, dalam pengobatan
kejang psikomotor, serta neuralgia trigeminal. Karbamazepin secara kimiawi
tidak berhubungan dengan obat antikonvulsan lain maupun obat-obat lain yang
digunakan untuk mengobati nyeri pada neuralgia trigeminal.
b. Pasien hiperaktif atau agitasi anti
psikotik low potensial
Penatalaksanaan ini berarti
mengurangi dan menghentikan agitasi untuk pengamanan pasien. Hal ini berkaitan
dengan penggunaan obat anti psikotik untuk pasien waham. Dimana pedoman
penggunaan antipsikotik adalah:
1) Tentukan target symptom
2) Antipsikosis yang telah berhasil
masa lalu sebaiknya tetap digunakan
3) Penggantian antipsikosis baru
dilakukan setelah penggunaan antipsikosis yang lama 4-6 minggu.
4) Hindari polifarmasi
5) Dosis maintenans adalah dosis
efektif terendah.
Contoh obat antipsikotik adalah:
1) Antipsikosis atipikal (olanzapin,
risperidone).
2) Tipikal (chlorpromazine,
haloperidol), chlorpromazine 25-100mg
c. Penarikan diri high potensial
Selama
seseorang mengalami waham. Dia cenderung menarik diri dari pergaulan dengan
orang lain dan cenderung asyik dengan dunianya sendiri (khayalan dan pikirannya
sendiri). Oleh karena itu, salah satu penatalaksanaan pasien waham adalah
penarikan diri high potensial. Hal ini berarti penatalaksanaannya ditekankan
pada gejala dari waham itu sendiri, yaitu gejala penarikan diri yang berkaitan
dengan kecanduan morfin biasanya dialami sesaat sebelum waktu yang dijadwalkan
berikutnya, penarikan diri dari lingkungan sosial.
d. ECT tipe katatonik
Electro Convulsive Terapi (ECT) adalah sebuah prosedur dimana
arus listrik melewati otak untuk memicu kejang singkat. Hal ini tampaknya
menyebabkan perubahan dalam kimiawi otak yang dapat mengurangi gejala penyakit
mental tertentu, seperti skizofrenia katatonik. ECT bisa menjadi pilihan jika
gejala yang parah atau jika obat-obatan tidak membantu meredakan katatonik
episode.
e. Psikoterapi
Walaupun obat-obatan penting untuk mengatasi pasien waham, namun
psikoterapi juga penting. Psikoterapi mungkin tidak sesuai untuk semua orang,
terutama jika gejala terlalu berat untuk terlibat dalam proses terapi yang
memerlukan komunikasi dua arah. Yang termasuk dalam psikoterapi adalah terapi
perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, terapi supportif.
2.1.9 Pohon Masalah (2)
Harga Diri Rendah Kronis
Bagan 2.2 Pohon Masalah Waham
2.2 Teori Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan adalah satu pendekatan
untuk pemecahan masalah yang memampukan perawat untuk mengatur dan memberikan
asuhan keperawatan. (6)
Proses keperawatan adalah proses yang terdiri dari 5 tahap, yaitu
pengkajian keperawatan, identifikasi/ analisis masalah,
intervensi, implementasi dan evaluasi. (7)
2.2.1 Pengkajian
Pengkajian adalah upaya mengumpulkan
data secara lengkap dan sistematis untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah
kesehatan dan keperawatan yang di hadapi pasien baik fisik, mental, sosial maupun
spiritual dapat ditentukan (8). Tahap
pengkajian terdiri dari kegiatan yaitu pengumpulan data, analisa data, dan perumusan diagnosa keperawatan.
1.
Pengumpulan
Data
Data yang dikumpulkan
terdiri atas :
a. Identitas
1) Identitas Klien
Meliputi nama, umur,
jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk, tanggal pengkajian,
ruang rawat, nomor medrek, diagnosa
medis dan alamat.
2) Identitas Penanggung jawab
Terdiri dari nama, umur,
jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat dan hubungan dengan klien.
3) Keluhan
utama / alasan masuk
Tanyakan pada keluarga / klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga
datang ke Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah
dan perkembangan yang dicapai.
4) Riwayat Penyakit Sekarang
Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa
pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami, penganiayaan fisik, seksual,
penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal.
Dapat dilakukan pengkajian pada keluarga faktor yang
mungkin mengakibatkan terjadinya gangguan :
a) Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon
psikologis dari klien.
b) Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau SSP, pertumbuhan dan
perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan anak-anak.
c) Sosial
Budaya
Seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan, kerusuhan, kerawanan), kehidupan yang
terisolasi serta stress yang menumpuk.
5) Aspek fisik
/ biologis
Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital: TD, nadi, suhu, pernafasan.
Ukur tinggi badan dan berat badan, kalau perlu kaji fungsi organ kalau ada
keluhan.
6) Aspek
psikososial
a) Membuat
genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi yang dapat menggambarkan
hubungan klien dan keluarga, masalah yang terkait dengan komunikasi,
pengambilan keputusan dan pola asuh.
b) Konsep diri
· Citra tubuh:
mengenai persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian yang disukai dan tidak
disukai.
· Identitas
diri: status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan klien terhadap status
dan posisinya dan kepuasan klien sebagai laki-laki / perempuan.
· Peran: tugas
yang diemban dalam keluarga / kelompok dan masyarakat dan kemampuan klien dalam
melaksanakan tugas tersebut.
· Ideal diri:
harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas, lingkungan dan penyakitnya.
· Harga diri:
hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan penghargaan orang lain terhadap
dirinya, biasanya terjadi pengungkapan kekecewaan terhadap dirinya sebagai
wujud harga diri rendah.
c) Hubungan
sosial dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan, kelompok yang diikuti
dalam masyarakat.
d) Spiritual,
mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah.
7) Status
mental
Nilai penampilan klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien, aktivitas
motorik klien, alam perasaan klien (sedih, takut, khawatir), afek klien,
interaksi selama wawancara, persepsi klien, proses pikir, isi pikir, tingkat
kesadaran, memori, tingkat konsentasi dan berhitung, kemampuan penilaian dan
daya tilik diri.
8) Kebutuhan
persiapan pulang
a) Kemampuan
makan klien, klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan.
b) Klien mampu
BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC serta membersihkan dan merapikan
pakaian.
c) Mandi klien
dengan cara berpakaian, observasi kebersihan tubuh klien.
d) Istirahat
dan tidur klien, aktivitas di dalam dan di luar rumah.
e) Pantau
penggunaan obat dan tanyakan reaksi yang dirasakan setelah minum obat.
9) Masalah psikososial
dan lingkungan
Dari data keluarga atau klien mengenai masalah yang dimiliki klien.
10) Aspek medik
Terapi yang diterima oleh klien: ECT, terapi antara lain seperti terapi
psikomotor, terapi tingkah laku, terapi keluarga, terapi spiritual, terapi okupasi,
terapi lingkungan. Rehabilitasi sebagai suatu refungsionalisasi dan
perkembangan klien supaya dapat melaksanakan sosialisasi secara wajar dalam kehidupan
bermasyarakat.
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu
pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko
perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas
dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga
status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (8)
Perumusan diagnosa keperawatan :
1.
Aktual : Menjelaskan masalah nyata saat ini
sesuai dengan data klinik yang ditemukan.
2.
Resiko : Menjelaskan masalah kesehatan nyata
akan terjadi jika tidak di lakukan intervensi.
3.
Kemungkinan : Menjelaskan
bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan masalah keperawatan
kemungkinan.
4. Wellnes : Keputusan klinik tentang keadaan
individu, keluarga, atau masyarakat dalam transisi dari tingkat sejahtera
tertentu ketingkat sejahtera yang lebih tinggi.
5. Syndrom : Diagnosa yang terdiri dari kelompok diagnosa keperawatan aktual dan
resiko tinggi yang diperkirakan muncul/ timbul karena suatu kejadian atau
situasi tertentu.
Diagnosa keperawatan (2) yang
muncul pada pasien waham adalah:
1.
Resiko tinggi perlaku kekerasan
2.
Gangguan isi pikir : Waham
3.
Isolasi sosial
4.
Harga diri rendah kronis
2.2.3 Intervensi Keperawatan
Semua tindakan yang dilakukan oleh perawat
untuk membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini kestatus kesehatan
yang diuraikan dalam hasil yang di harapkan (10)
Rencana asuhan keperawatan tertulis mengatur
pertukaran informasi oleh perawat dalam laporan pertukaran dinas. Rencana keperawatan tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka panjang (8)
1. Diagnosa Keperawatan 1 (9)
Perilaku kekerasan
Tujuan :
Pasien mampu :
a. Mengidentifikasi penyebab dan tanda
perilaku kekerasan
b. Menyebutkan jenis perilaku kekerasan
yang pernah dilakukan
c. Meneybutkan akibat dari perilaku
kekerasan yang dilakukan
d. Menyebutkan cara mengontrol perilaku
kekerasan
e. Mengontrol perilaku kekerasanya
secara :
1) Fisik
2) Sosial/ Verbal
3) Spiritual
4) Terapi psikofarmaka (patah obat)
SP 1 (Pasien)
a. Kriteria Hasil
Setelah
... pertemuan, Pasien
mampu :
1) Meneyebutkan penyebab, tanda, gejala
dan akibat perilaku kekerasan
2) Memperagakan cara fisik 1 untuk mengontrol
perilaku kekerasan
b. Intervensi
1) Identifikasi penyebab,
tanda dan gejala serta akibat perilaku kekerasan
2) Latih cara fisik 1
3) Tarik nafas dalam
4) Masukan dalm jadwal
harian pasien
SP 2 (Pasien)
a. Kriteria Hasil
Setelah ... pertemuan, pasien
mampu :
1) Menyebutkan kegiatan
yang sudah dilakukan
2) Memperagakan cara
fisik untuk mengontrol perilaku kekerasan
b. Intervensi
1) Evaluasi kegiatan yang
lalu SP 1
2) Latih cara fisik 2
3) Pukul kasur/ bantal
4) Masukan dalam jadwal
harian pasien
SP 3 (Pasien)
a. Kriteria Hasil
Setelah... pertemuan, pasien
mampu :
1) Menyebutkan kegiatan
yang sudah dilakukan
2) Memperagakan cara
sosial/ verbal untuk mengontrol perilaku kekerasan
b. Intervensi
1) Evaluasi kegiatan yang
lalu SP 1 dan SP 2
2) Latih secara sosial/
verbal
3) Menolak dengan baik
4) Meminta dengan baik
5) Mengungkapkan dengan
baik
6) Masukan dalam jadwal
harian pasien
SP 4 (Pasien)
a. Kriteria hasil
Setelah... pertemuan, pasien
mampu :
1) Menyebutkan kegiatan
yang sudah dilakukan
2) Memperagakan cara
spiritual
b. Intervensi
1) Evaluasi kegiatan yang
lalu SP 1, SP 2 dan SP 3
2) Latih secara spiritual
:
a) Berdoa
b) Sholat
3) Masukan dalam jadwal
harian pasien
SP 5 (Pasien)
a. Kriteria Hasil
Setelah... pertemuan pasien mampu
:
b. Intervensi
1) Evaluasi kegiatan yang
lalu (SP 1, 2, 3, dan 4)
2) Latih patuh obat
a) Minum obat secara
teratur dengan prinsip 6B
b) Susun jadwal minum
obat secara teratur
3) Masukan dalam jadwal
harian pasien
2.
Diagnosa
Keperawatan 2 (9)
Gangguan proses pikir :
waham
Tujuan :
a. Pasien mampu :
1) Berorientasi kepada
realitas secara bertahap
2) Pasien dapat memenuhi
kebutuhan dasar
3) Mampu berinteraksi
dengan orang lain dan lingkungan
4) Menggunakan obat
dengan prinsip 6 benar
b. Keluarga mampu:
1) Mengidentifikasi waham
pasien
2) Memfasilitasi pasien
untuk memenuhi kebutuhanya
SP 1 (Pasien)
a. Kriteria Hasil
Setelah pertemuan, pasien mampu memenuhi
kebutuhanya
b. Intervensi
1) Membina hubungan saling peraya
2) Mengidentifikasi
kebutuhan yang tidak terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan
3) Mempraktikan pemenuhan
kebutuhan yang tidak terpenuhi
SP 2 (Pasien)
a. Kriteria Hasil
Setelah pertemuan,
pasien mampu :
1) Menyebutkan kegiatan
yang sudah dilakukan
2) Mampu menyebutkan
serta memilih kemampuan yang dimiliki
b. Intervensi
1) Evaluasi kegiatan yang
lalu (SP 1)
2) Mengidentifikasikan
kemampuan positif pasien dan membantu mepraktekanya
3) Masukan dalam jadwal
pasien
SP 3 (Pasien)
a. Kriteria Hasil
Setelah pertemuan, pasien
mengetahui cara serta mampu minum obat yang benar
b. Intervensi
1) Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1
& SP 2)
2) Diskusikan tentang obat yang diminum
3) Latih minum obat yang benar
4) Masukan dalam jadwal harian pasien
SP 1 (Keluarga)
a. Kriteria Hasil
Setelah pertemuan,
keluarga mampu:
1) Mengidentifikasi
masalah
2) Menjelaskan cara
merawat pasien
3)
Mempertahankan program pengobatan pasien secara optimal
b. Intervensi
1)
Identifikasi masalah keluarga dalam merawat pasien
2)
Jelaskan proses terjadinya waham
3)
Jelaskan tentang cara merawat pasien waham
4)
Latih (simulasi) cara merawat
5)
RTL keluarga/ jadwal merawat pasien
SP 2
(Keluarga)
a.
Kriteria Hasil
Setelah
pertemuan, keluarga mampu :
1)
Menyebutkan kegiatan yang sesuai dilakukan
2)
Mampu memperagakan cara merawat pasien
b.
Intervensi
1) Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1)
2) Latih keluarga cara merawat
(langsung ke pasien)
3) RTL keluarga
SP 3 (Keluarga)
a. Kriteria
Setelah pertemuan, keluarga mampu : Mengidentifikasi masalah dan mampu
menjelaskan cara merawat pasien
b. Intervensi
1) Evaluasi kemampuan keluarga
2) Evaluasi kemampuan pasien
3) RTL Kleuarga :
a) Follow up
b) Rujukan
3.
Diagnosa
Keperawatan 3 (9)
Isolasi Sosial
Tujuan
Pasien mampu :
a. Menyadari penyebab
isolasi sosial
b. Berinteraksi dengan
orang lain
SP 1 (Pasien)
a. Kriteria Hasil
Setelah ... pertemuan,
pasien mampu :
1) Membina hubungan
saling percaya
2) Menyadari penyebab
isolasi sosial
3) Keuntungan dan
kerugian berinteraksi dengan orang lain
4) Melakukan interaksi
dengan orang lain secara bertahap
b. Intervensi
1) Identifikasi penyebab
a) Siapa yang satu rumah
dengan pasien?
b) Siapa yang dekat
dengan pasien? Apa sebabnya?
c) Siapa yang tidak dekat
dengan pasien? Apa sebabnya?
2)
Tanyakan keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain
a)
Tanyakan pendapat pasien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain
b)
Tanyakan apa yang menyebabkan pasien tidak ingin berinteraksi dengan
orang lain
c)
Diskusikan keuntungan bila pasien memiliki banyak teman dan bergaul akrab
dengan mereka
d) Diskusikan kerugian
bila pasien hanya mngurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain
e)
Jelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik pasien
3) Latih berkenalan
a)
Jelaskan kepada klien cara berinteraksi dengan orang lain
b)
Berikan contoh cara berinteraksi dengan orang lain
c)
Beri kesempatan pasien mempraktekan cara berinteraksi dengan orang lain
yang dilakukan dihadapan perawat
d) Mulailah bantu pasien
berinteraksi dengan satu teman/ anggota keluarga
e)
Bila pasien sudah menunjukan kemajuan, tingkatkan jumlah interaksi dengan
2, 3, 4 orang dan seterusnya
f)
Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh
pasien
g)
Siap mendengarkan ekspresi perasaan pasien setelah berinteraksi dengan
orang lain, mungkin pasien akan mengungkapkan keberhasilan atau kegagalanya,
beri dorongan terus menerus agar pasien tetap semangat meningkatkan
interaksinya
4) Masukan jadwal
kegiatan pasien
SP 2 (Pasien)
Intervensi
1) Evaluasi SP1
2) Latih berhubungan
sosial secara bertahap
3) Masukan dalam jadwal
kegiatan pasien
SP 3 (Pasien)
Intervensi
1) Evaluasi SP 1 & 2
2) Latih cara berkenalan
dengan 2 orang atau lebih
3) Masukan jadwal
kegiatan pasien
4.
Diagnosa
Keperawatan 4 (9)
Gangguan Konsep Diri; Harga Diri
Rendah
Tujuan :
a. Klien mampu:
1) Mengidentifikasi
kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2) Menilai kemampuan yang
dapat digunakan
3) Menetapkan/ memilih
kegiatan yang sesuai dengan kemampuan
4) Merencanakan kegiatan
yang sudah dilatihnya
b.
Keluarga mampu: Merawat klien dengan harga diri rendah dirumah dan
menjadi sistem pendukung yang efektif bagi klien.
SP 1 (Pasien)
a. Kriteria Hasil
Setelah
...x pertemuan, klien mampu:
1)
Mengidentifikasi kemampuan aspek positif yang dimiliki
2)
Memiliki kemampuan yang dapat digunakan
3)
memilih kegiatan sesuai kemampuan
4)
Melakukan kegiatan yang sudah dipilih
5)
merencanakan kegiatan yang sudah dilatih
b.
Intervensi
1)
Identifikasi kemampuan positif yang dimiliki.
a)
Diskusikan bahwa pasien masih memiliki sejumlah kemampuan dan aspek
positif seperti kegiatan pasien dirumah adanya keluarga dan lingkungan terdekat
pasien
b)
Beri pujian yang realistis dan hindarkan setiap kali bertemu dengan klien
penilaian yang negatif
2)
Nilai kemampuan yang dapat dilakukan saat ini
a)
Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih digunakan saat ini
b)
Bantu klien menyebutkannya dan memberi penguatan terhadap kemampuan diri
yang dingkapkan oleh klien
c)
Perlihatkan respon yang kondusif dan menjadi pendengar yang aktif.
3)
Pilih kemampuan yang akan dilatih.
a)
Diskusikan dengan klien beberapa aktifitas yang dapat dilakukan dan
dipilih sebagai kegiatan yang akan klien lakukan sehari-hari.
b)
Bantu klien menetapkan aktifitas mana yang dapat klien lakukan secara
mandiri.
· Aktifitas yang memerlukan
bantuan minimal dari keluarga.
· Aktifitas apa saja
yang perlu bantuan penuh dari keluarga atau lingkungan terdekat klien.
· Beri contoh cara
pelaksanaan aktifitas yang dapat dilakukan klien.
· Susun bersama klien
aktifitas atau kegiatan sehari-hari klien.
4)
Nilai kemampuan pertama yang telah dipilih.
a)
Diskusikan dengan klien untuk menetapkan urutan kegiatan (yang sudah
dipilih klien) yang akan dilatihkan.
b)
Bersama klien dan keluarga memperagakan beberapa kegiatan yang dilakukan
klien.
c)
Beri dukungan dan pujian yang nyata sesuai kemajuan yang diperlihatkan
klien.
5)
Masukan dalam jadwal kegiatan klien.
a)
Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan.
b)
Beri pujian atas aktifitas/ kegiatan yang yang dapat dilakukan klien
setiap hari.
c)
Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi dan perubahan.
d) Susun daftar aktifitas
yang sudah dilatihkan bersama klien dan keluarga.
e)
Beri kesempatan mengungkapkan perasaanya setelah pelaksanaan kegiatan.
f)
Yakinkan bahwa keluarga mendukung setiap aktifitas yang dilakukan klien.
SP 2 (Pasien)
Intervensi
:
1)
Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1).
2)
Memilih kemampuan kedua yang dapat dilakukan.
3)
Masukan dalam jadwal kegiatan klien.
SP 1 (Keluarga)
a.
Kriteria Hasil.
Setelah
...x pertemuan, keluarga mampu :
1)
Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki klien.
2)
Menyediakan fasilitas untuk klien melakukan kegiatan.
3)
Mendorong klien melakukan kegiatan.
4)
Memuji klien saat klien dapat melakukan kegiatan.
5)
Membantu melatih klien.
6)
Membantu menyusun jadwal kegiatan klien.
7)
Membantu perkembangan klien.
b.
Intervensi
1)
Identifikasi masalah yang dirasakan dalma merawat klien.
2)
Jelaskan proses terjadinya HDR.
3)
Jelaskan tentang cara merawat klien.
4)
Main peran dalam merawat klien HDR.
5)
Susun RTL keluarga/ jadwal keluarga untuk merawat klien.
SP 2 (Keluarga)
Intervensi
:
1)
Evaluasi kemampuan SP1.
2)
Latih keluarga langsung ke klien.
3)
Menyususn RTL keluarga/ jadwal keluarga untuk merawat Klien.
SP 3 (Keluarga)
Intervensi
:
1)
Evaluasi kemasmpuan keluarga.
2)
Evaluasi kemampuan Klien.
3)
RTL Keluarga.
a)
Follow up.
b) Rujukan.
2.2.4 Implementasi Keperawatan
Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang
spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan
ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang
diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk
memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien.
2.2.5 Evaluasi
1. Klien percaya dengan perawat, terbuka untuk ekspresi waham
2. Klien menyadari kaitan kebutuhan yang tidak terpenuhi dengan keyakinannya (waham) saat ini
3. Klien dapat melakukan upaya untuk mengontrol waham
4. Keluarga mendukung dan bersikap terapeutik terhadap klien
5. Klien menggunakan obat sesuai program
No comments:
Post a Comment