BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Presbiopi
merupakan bagian alami dari penuaan mata. Presbiopi ini bukan merupakan
penyakit dan tidak dapat dicegah. Presbiopi atau mata tua yang disebabkan
karena daya akomodasi lensa mata tidak bekerja dengan baik akibatnya lensa mata
tidak dapat menmfokuskan cahaya ke titik kuning dengan tepat sehingga mata
tidak bisa melihat yang dekat. Presbiopi adalah suatu bentuk gangguan refraksi,
dimana makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin
meningkatnya umur. Daya akomodasi adalah kemampuan lensa mata untuk mencembung
dan memipih (Wikipedia, 2012). Biasanya terjadi diatas usia 40 tahun, dan
setelah umur itu, umumnya seseorang akan membutuhkan kaca mata baca untuk mengkoreksi presbiopinya.
1.2.
Rumusan
Masalah
1. Apa Definisi dari presbiopi
?
2. Apa saja penyebab dari presbiopi?
3. Bagaimana
manifestasi kilinik dari presbiopi?
4. Bagaimana
patofisiologi dari presbiopi?
5. Bagaimana
pathway dari presbiopi?
6. Apa
sajakah klasifikasi presbiopi?
7. Apa
sajakah penatalaksanaan dari presbiopi?
8. Apa
saja komplikasi yang mungkin muncul pada presbiopi?
9. Bagaimana
perawatan penyakit presbiopi?
10. Lalu
bagaimana asuhan keperawatan pada pasien presbiopi?
1.3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan :
- Untuk
mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan presbiopi.
Manfaat :
-
Untuk menambah pengetahuan dan keterampilan individu dalam melaksanakan asuhan
keperawatan pada pasien dengan presbiopi.
-
Untuk menambah pengetahuan bagi semua pembaca.
BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN
2.1. Pengertian
Presbiopi merupakan kondisi mata dimana lensa
kristalin kehilangan fleksibilitasnya sehingga membuatnya tidak dapat fokus
pada benda yang dekat. Presbiopi adalah suatu bentuk gangguan refraksi, dimana
makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya
umur.
Presbiopi merupakan bagian alami dari penuaan mata.
Presbiopi ini bukan merupakan penyakit dan tidak dapat dicegah. Presbiopi atau
mata tua yang disebabkan karena daya akomodasi lensa mata tidak bekerja dengan
baik akibatnya lensa mata tidak dapat menmfokuskan cahaya ke titik kuning
dengan tepat sehingga mata tidak bisa melihat yang dekat. Presbiopi adalah
suatu bentuk gangguan refraksi, dimana makin berkurangnya kemampuan akomodasi
mata sesuai dengan makin meningkatnya umur. Daya akomodasi adalah kemampuan
lensa mata untuk mencembung dan memipih (Wikipedia, 2012). Biasanya terjadi
diatas usia 40 tahun, dan setelah umur itu, umumnya seseorang akan membutuhkan
kaca mata baca untuk mengkoreksi presbiopinya
2.2. Etiologi
Presbiopia dapat terjadi karena kelemahan otot
akomodasi atau lensa mata tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya akibat
sclerosis lensa (Istiqamah, 2004).
Mekanisme nyata dari presbiopia tidak diketahui
kepastiannya, bukti penelitian lebih kuat mendukung berkurangnya elastisitas
dari crystalline lens, walaupun perubahan pada kelengkungan lensa dari
pertumbuhan yang terus-menerus,dan berkurangnya kekuatan dari cilliary muscles
(otot yang membelokkan dan meluruskan lensa) juga didalilkan sebagai sebab.
2.3. Patofisiologi
Cahaya masuk ke mata dan dibelokkan ( refraksi )
ketika melalui kornea dan struktur-struktur lain dari mata ( kornea, humor
aqueus, lensa, humor vitreus ) yang mempunyai kepadatan berbeda-beda untuk
difokuskan di retina.
Mata mengatur ( akomodasi ) sedemikian rupa ketika
melihat objek yang jaraknya bervariasi dengan menipiskan dan menebalkan lensa.
Penglihatan dekat memerlukan kontraksi dari cilliary body, yang bisa
memendekkan jarak antara kedua sisi cilliary body yang diikuti relaksasi
ligament pada lensa. Lensa menjadi lebih cembung agar cahaya dapat terfokuskan
pada retina.( Long, 1996 )
Pada mata presbiopia yang dapat terjadi karena
kelemahan otot akomodasi atau lensa mata tidak kenyal atau berkurang
elastisitasnya, menyebabkan kurang bisa mengubah bentuk lensa untuk memfokuskan
mata saat melihat. Akibat gangguan tersebut bayangan jatuh di belakang retina.
Karena daya akomodasi berkurang, maka
titik dekat mata makin menjauh.( Istiqamah, 2004 )
Akomodasi suatu proses aktif yang memerlukan usaha
otot, sehingga dapat lelah. Jelas musculus cilliary salah satu otot yang
terlazim digunakan dalam tubuh. Derajat kelengkungan lens yang dapat
ditingkatkan jelas terbatas dan sinar cahaya dari suatu objek yang sangat dekat
individu tak dapat dibawa ke suatu focus di atas retina, bahkan dengan usaha
terbesar. Titik terdekat dengan mata,
tempat suatu objek dapat dibawa ke focus jelas dengan akomodasi dinamai
titik dekat penglihatan. Titik dekat berkurang selama hidup, mula-mula pelan-pelan
dan kemudian secara cepat dengan bertambanya usia, dari sekitar 9 cm pada usia
10 tahun sampai sekitar 83 cm pada usia 60 tahun. Pengurangan ini terutama
karena peningkatan kekerasan lens, dengan akibat kehilangan akomodasi karena
penurunan terus-menerus dalam derajat kelengkungan lens yang dapat
ditingkatkan. Dengan berlalunya waktu, individu normal mencapai usia 40-45
tahun, biasanya kehilangan akomodasi, telah cukup menyulitkan individu membaca
dan pekerjaan dekat.( Ganong, 1995 )
2.4. Manifestasi
Klinis
Karena daya akomodasi berkurang, maka titik dekat
mata makin menjauh dan pada awalnya klien akan kesulitan membaca dekat. Dalam
upaya untuk membaca lebih jelas, maka klien cenderung menegakkan punggungnya
atau menjauhkan objek yang dibacanya sehingga mencapai titik dekat klien,
dengan demikian objek dapat dibaca lebih jelas. Klien akan memberikan keluhan
setelah membaca mata lelah, berair dan sering merasa pedas.( Istiqamah, 2004 )
Gejala umumnya adalah sukar melihat pada jarak dekat
yang biasanya terdapat pada usia 40 tahun, di mana pada usia ini amplitudo
akomodasi pada klien hanya menghasilkan titik dekat sebesar 25 cm. Pada jarak
ini seseorang emetropia yang berusia 40 tahun dengan jarak baca 25 cm akan
menggunakan akomodasi maksimal sehingga menjadi cepat lelah, membaca dengan
menjauhkan kertas yang dibaca, dan memerlukan sinar yang lebih terang.(
Masjoer, dkk 2001 )
Ketika individu menjadi presbiopia mereka mendapati
perlu memegang buku ,majalah, surat
kabar, daftar menu dan bahan bacaan lain agak jauh agar focus dengan
sebaik-baiknya. Ketika mereka melakukan pekerjaan dekat,seperti menyulam atau
menulis tangan, mereka mungkin merasa sakit kepala atau kelelahan mata, atau
maerasa letih.
Gejala pertama kebanyakan orang presbiopia adalah
kesulitan membaca huruf cetak yang halus, terutama sekali dalam kondisi cahaya
redup; kelelahan mata ketika membaca dalam waktu yang lama; kabur pada jarak
dekat atau pandangan dikaburkan sebentar ketika mengalihkan di antara jarak
pandang. Banyak penderita presbiopia telah lanjut mengeluh lengan mereka dirasa
menjadi too short untuk memegang bahan bacaan pada jarak yang nyaman.
2.5. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan
Tajam Penglihatan
Dilakukan
di kamar yang tidak terlalu terang dengan Kartu
Snellen.
Cara
:
a. Pasien
duduk dengan jarak 6 m dari kartu snellen dengan satu mata ditutup
b. Pasien
diminta membaca huruf yang tertulis di kartu, mulai dari baris paling atas ke
bawah, dan ditentukan baris terakhir yang masih dapat dibaca seluruhnya dengan
benar.
c. Bila
pasien tidak dapat membaca baris paling atas ( terbesar ), maka dilakukan uji
hitung jari dari jarak 6 m.
d. Jika
pasien tidak dapat menghitung jari pada jarak 6 m, maka jarak dapat dikurangi
satu meter, sampai maksimal jarak penguji dengan pasien satu meter.
e. Jika
pasien tidak dapat melihat, dilakukan uji lambaian tangan dari jarak satu
meter.
f. Jika
pasien tetap tidak bisa melihat lambaian tangan, dilakukan uji dengan arah
sinar.
g. Jika
penglihatan sama sekali tidak mengenal adanya sinar, maka dikatakan
penglihatannya adalah nol (0) atau buta total.
Penilaian:
-
Tajam penglihatan
normal adalah 6/6. Berarti pasien dapat membaca seluruh huruf dalam kartu
snellen dengan benar.
-
Bila baris yang dapat
dibaca seluruhnya bertanda 30, maka dikatakan tajam penglihatan 6/30. Berarti
ia hanya dapat melihat pada jarak 6 m yang oleh orang normal huruf tersebut
dapat dilihat pada jarak 30 m.
-
Bila dalam uji hitung
jari, pasien hanya dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang diperlihatkan
pada jarak 3 m, maka dinyatakan tajam penglihatan 3/60. Jari terpisah dapat
dilihat orang normal pada jarak 60 m.
-
Orang normal dapat
melihat gerakan atau lambaian tangan pada jarak 300 m. Bila mata hanya dapat
melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter, berarti tajam penglihatan adalah
1/300.
-
Bila mata hanya mengenal
adanya sinar saja, tidak dapat melihat lambaian tangan, maka dikatakan sebagai
1/~. Orang normal dapat melihat adanya sinar pada jarak tidak berhingga.
2. Pemeriksaan
Kelainan Refraksi
Dilakukan pada satu mata secara
bergantian, biasanya dimulai dengan mata kanan kemudian mata kiri. Dilakukan
setelah tajam penglihatan diperiksa dan diketaui terdapat kelainan refraksi.
Cara
:
a. Pasien
duduk dengan jarak 6 m dari kartu snellen.
b. Satu
mata ditutup, dengan mata yang terbuka pasien diminta membaca baris terkecil
yang masih dapat dibaca.
c. Pada
mata yang terbuka diletakkan lensa positif +0,50 untuk menghilangkan akomodasi
pada saat pemeriksaan.
d. Kemudian
diletakkan lensa positif tambahan, dikaji :
1) Bila
penglihatan tidak bertambah baik, berarti pasien tidak hipermetropia
2) Bila
bertambah jelas dan dengan kekuatan lensa yang ditambah perlahan-lahan
bertambah baik, berarti pasien menderita hipermetropia. Lensa positif terkuat
yang masih memberikan ketajaman terbaik merupakan ukuran lensa koreksi untuk
mata hipermetropia tersebut.
e. Bila
penglihatan tidak bertambah baik, maka diletakkan lensa negative.
Bila menjadi jelas, berarti pasien
menderita myopia. Ukuran lensa koreksi adalah lensa negative teringan yang
memberikan ketajamam penglihatan maksimal.
f. Bila
baik dengan lensa negative maupun positif penglihatan tidak maksimal (
penglihatan tidak dapat mencapai 6/6 ), maka dilakukan uji pinhole. Letakkan
pinhole di depan mata yang sedang diuji dan diminta membaca baris terakhir yang
masih dapat dibaca sebelumnya. Bila :
1) pinhole
tidak memberikan perbaikan, berarti mata tidak dapat dikoreksi lebih lanjut
karena media penglihatan keruh, terdapat kelainan pada retina atau saraf optic
2) terjadi
perbaikan penglihatan, maka berarti terdapat astigmatisma atau silinder pada
mata tersebut yang belum mendapat koreksi.
g. Bila
pasien astigmatisma, maka pada mata tersebut dipasang lensa positif yang cukup
besar untuk membuat pasien menderita kelainan refraksi astigmatismus miopikus.
h. Pasien
diminta untuk melihat kartu kipas astigmat dan ditanya garis pada kipas yang
paling jelas terlihat.
i.
Bila pebedaan tidak
terlihat, lensa positif diperlemah sedikit demi sedikit hingga pasien dapat
melihat garis yang terjelas dan kabur.
j.
Dipasang lensa silinder
negative dengan sumbu sesuai dengan garis terkabur pada kipas astigmat.
k. Lensa
silinder negative diperkuat sedikit demi sedikit pada sumbu tersebut hingga
sama jelasnya dengan garis lainnya.
l.
Bila sudah sama
jelasnya, dilakukan tes kartu snellen kembali.
m. Bila
tidak didapatkan hasil 6/6, maka mungkin lensa positif yang diberikan terlalu
berat, harus dikurangi perlahan-lahan, atau ditambah lensa negative
perlahan-lahan sampai tajam penglihatan menjadi 6/6. Derajat astigmat adalah
ukuran lensa silinder negative yang dipakai hingga gambar kipas astigmat tampak
sama jelas.
3. Pemeriksaan
Presbiopia
Untuk usia lanjut dengan keluhan dalam membaca,
dilanjutkan dengan pemeriksaan presbiopia.
Cara
:
a. Dilakukan
penilaian tajam penglihatan dan koreksi kelainan refraksi bila terdapat myopia,
hipermetropia, atau astigmatisma, sesuai prosedur di atas.
b. Pasien
diminta membaca kartu baca pada jarak 30-40 cm ( jarak baca ).
c. Diberikan
lensa mulai +1 dinaikkan perlahan-lahan sampai terbaca huruf terkecil pada
kartu baca dekat dan kekuatan lensa ini ditentukan.
d. Dilakukan
pemeriksaan mata satu per satu.
(
Masjoer, dkk 2001 )
2.6. Penatalaksanaan
1. Kacamata
Kacamata dengan bifocal atau
Progressive Addition Lenses ( PALs ) adalah koreksi yang paling umum untuk
presbiopia. Bifokal mempunyai dua cara untuk pemfokusan : bagian besar dari lensa
kacamata untuk nearsightedness atau farsightedness, sedangkan bagian terbawah
lensa memegang preskripsi terkuat untuk penglihatan dekat untuk pekerjaan
dekat. PALs mirip denagan lensa bifocal, tetapi PALs memberikan transisi
penglihatan yang lebih bertahap di antara preskripsi, dengan tidak ada garis
visible di antara keduanya.
Kacamata baca adalah pilihan lain.
Tidak seperti bifocal atau PALs yang sebagian besar orang menggunakannya setiap
hari, kacamata baca hanya digunakan selama pekerjaan dekat.
Biasanya diberikan kacamata baca
untuk membaca dekat dengan lensa sferis positif yang dihitung berdasarkan
amplitudo akomodasi pada masing-masing kelompok umur :
+1,0 D untuk usia 40 tahun
+1,5 D untuk usia 45 tahun
+2,0 D untuk usia 50 tahun
+2,5 D untuk usia 55 tahun
+3,0 D untuk usia 60 tahun.
( Masjoer, dkk 2001 )
2. Lensa
Kontak
Ada lensa kontak untuk presbiopia,
yaitu multifocal contact lenses. Kamu dapat memperolehnya dalam bentuk gas
permeable atau soft lense materials. Tipe lensa kontak yang lain untuk koreksi
presbiopia adalah monovision, di mana satu mata menggunakan preskripsi
penglihatan jarak jauh dan mata yang lain menggunakan perskripsi untuk
penglihatan dekat. Otak belajar menyerupai satu mata atau mata lainnya untuk
perbedaan tugas yang sulit. Ketika beberapa orang menyukai solusi ini, beberapa
orang yang lainnya mengeluh pusing atau mual, atau kesalahan memperkirakan
jarak dalam hubungan benda-benda yang berjauhan satu sama lain dan jauh jarak
antara benda itu dengan orang tersebut
Vistakon’s Accuvue Bifocal
mempunyai desain annular meliputi lima zona konsentris. Zona pusat jarak jauh
dikelilingi oleh ring dekat, ring jauh lainnya, ring dekat kedua, dan ring jauh
terluar. Karena accuvue bifocal tidak mempunyai ketetapan untuk penglihatan intermediet, klien
memerlukan tambahan kekuatan yang tinggi sehingga dapat dipasang tambahan yang
tidak sama untuk mencapai penglihatan baik pada jarak dengan computer. Mata
dominant dapat dipasang dengan tambahan +1.00 atau +1.50, dan mata non dominant
dapat dipasang dengan tambahan yang lebih tinggi.
Bausch and Lomb Softlense
Multifocal dan Ciba Vision’s Focus Progressive Lenses mempunyai desain
aspheric. Lensa ini mempunyai koreksi penglihatan dekat di pusat lensa ( center
near multifocal ). Kekuatan lensa berangsur-angsur menurun untuk koreksi
penglihatan jauh selama satu perpindahan ke arah lensa perifer. Desain aspheric
multifocal menyediakan penglihatan jelas
pada jarak intermediet, sebagai pertimbangan penting untuk kebanyakan klien di
dunia computer sekarang ini. Klien yang menggunakan center near bifocal /
multifocal mungkin kehilangan penglihatan jauh mereka di cahaya terang
matahari, sejak konstriksi pupil terlalu berlebihan akan membolehkan hanya
sinar dekat untuk memasuki mata. Dalam situasi ini, penggunaan sunglasses
diperlukan untuk sedikit mendilatasi pupil dan memperbaki penglihatan jarak
jauh.
3.
Pembedahan
Pilihan baru pembedahan untuk
pengobatan presbiopia sedang diteliti dan telah tersedia di banyak negara.
Salah satu contohnya adalah Refratec Inc.’ Conductive Keratoplasty, atau Near
Vision CK Treatment, yang menggunakan gelombang radio untuk membuat lebih
melengkung kornea untuk memperbaiki penglihatan dekat. Metode ini telah
disetujui FDA pada April 2004 untuk penurunan sementara dari presbiopia.
Highly experimental treatment
adalah elastic polymer gel lembut yang diteliti, dikatakan akan diinjeksikan ke
dalam capsular bag, rongga yang terdiri dari natural lens. Dalam teori, gel
akan mengganti natural lens dan menyediakan yang baru, lensa yang lebih
elastis. Penelitian juga berfokus pada laser treatment untuk menjadikan keras
lensa mata untuk meningkatkan kelenturan/ fleksibilitas dan memperbaiki focus.
Prosedur pembedahan baru mungkin
juga menyediakan solusi untuk presbiopia yang tidak ingin menggunakan kacamata
atau kontak lensa, implantation of accommodative intraocular lenses ( IOLs ).
2.7. Asuhan
Keperawatan
2.7.1. Pengkajian
1. Data Demografi
a. Umur,
presbiopia dapat terjadi mulai asia 40 tahun.
b. Pekerjaan,
perlu dikaji terutama pada pekerjaan yang memerlukan penglihatan ekstra dan
pada pekerjaan yang membutuhkan kontak cahaya yang terlalu lama, seperti
operator computer, reparasi jam.
( Istiqamah, 2004 )
2. Keluhan yang
Dirasakan
a. Pandangan
atau penglihatan kabur
b. Kesulitan
memfokuskan pandangan
c. Epifora,
menunjukkan adanya air mata berlebihan sehingga melimpah keluar
d. Pusing
atau sakit kepala
e. Mata
lelah dan mengantuk
f. Mata
sering terasa pedas setelah membaca
( Istiqamah, 2004 )
3. Keadaan atau Status Okuler Umum
a. Apakah
klien mengenakan kacamata atau lensa kontak
b. Di
mana klien terakhir dikaji
c. Apakah
klien sedang mendapat asuhan teratur seorang ahli oftalmologi
d. Kapan
pemeriksaan mata terakhir
e. Apakah
tekanan mata diukur
f. Apakah
klien mengalami kesulitan membaca ( focus ) pada jarak dekat atau jauh
g. Apakah
ada keluhan dalam membaca atau menonton TV
h. Bagaiman
dengan masalah membedakan warna,atau masalah dengan penglihatan lateral atau
perifer
i.
Apakah klien pernah
mengalami cedera mata atau infeksi mata
j.
Masalah mata yang
tedapat pada keluarga klien
k. Penyakit
mata apa yang terakhir diderita.
( Smletzer, 2001 )
4. Pemeriksaan
Klien terlebih dahulu dikoreksi
penglihatan jauhnya dengan metode “trial and error” hingga visus 6/6. Dengan
menggunakan koreksi, jauhnya kemudian secara binokuler ditambahkan lensa sferis
positif dan diperiksa dengan menggunakan kartu Jaeger pada jarak 30 cm (
Istiqamah, 2004 )
2.7.2. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan
sensori-persepsi ( visual ) yang berhubungan dengan perubahan kemampuan
memfokuskan sinar pada retina.
2. Gangguan
rasa nyaman ( pusing ) yang berhubungan dengan usaha pemfokusan mata.
3. Risiko
cedera yang berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.
( Istiqamah, 2004 )
2.7.3. Intervensi Keperawatan
- Perubahan
sensori-persepsi ( visual ) yang berhubungan dengan perubahan kemampuan memfokuskan
sinar pada retina.
Tujuan :
a. Ketajaman
penglihatan klien meningkat dengan bantuan otot
b. Klien
mengenal gangguan sensori yang terjadi dan melakukan kompensasi terhadap
perubahan.
Intervensi :
a. Jelaskan
penyebab gangguan penglihatan.
Rasional : Pengetahuan
tentang penyebab, mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan klien
sehingga klien kooperatif dalam tindakan keperawatan.
b. Lakukan
uji ketajaman penglihatan.
Rasional :
Mengetahui visus dasar klien dan perkembangannya setelah diberikan tindakan.
c. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian
lensa kontak/ kacamata bantu atau operasi.
- Gangguan
rasa nyaman ( pusing ) yang berhubungan dengan usaha pemfokusan mata.
Tujuan : Rasa nyaman klien terpenuhi.
Kriteria hasil :
a. Keluhan
klien ( pusing, mata lelah, berair ) berkurang / hilang
b. Klien
mengenal gejala gangguan sensori dan dapat berkompensasi terhadap perubahan
yang terjadi.
Intervensi :
a. Jelaskan
penyebab pusing, mata lelah, berair.
Rasional :
Mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien
kooperatif dalam tindakan keperawatan.
b. Anjurkan
agar klien cukup istirahat dan tidak melakukan aktifitas membaca terus-menerus.
Rasional :
Mengurangi kelelahan mata sehingga pusing berkurang.
c. Gunakan
lampu atau penerangan yang cukup ( dari atas dan belakang ) saat membaca.
Rasional :
Mengurangi silau dan akomodasi yang berlebihan.
d. Kolaborasi
pemberian kacamata untuk meningkatkan tajam penglihatan klien.
3. Risiko
cedera yang berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.
Tujuan : Tidak terjadi cedera.
Kriteria Hasil :
a. Klien
dapat melakukan aktivitas tanpa mengalami cedera
b. Klien
dapat mengidentifikasi potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi :
a. Jelaskan
tantang kemungkinan yang terjadi akibat penurunan tajam penglihatan.
Rasional :
Perubahan tajam penglihatan dan kedalaman persepsi dapat meningkatkan risiko
cedera sampai klien belajar untuk mengkompensasi.
b. Beritahu
klien agar lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas.
c. Batasi
aktivitas, seperti mengendarai kendaraan pada malam hari.
Rasional : Mengurangi
potensial bahaya karena penglihatan kabur.
d. Gunakan
kacamata koreksi/ pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi untuk
menghindari cedera.
( Istiqamah, 2004 )
4.
Intoleran aktifitas berhubungan
dengan kelelahan dan kelemahan.
Hasil yang diharapkan : menunjukkan peningkatan dalam beraktifitas, dengan frekuensi
jantung/irama dan tekanan darah dalam batas normal, kulit hangat, merah muda
dan kering.
Intervensi:
a.
Kaji toleransi pasien terhadap
aktifitas menggunakan parameter berikut: nadi 20/mnt di atas frekuensi nadi
istirahat, catat peningkatan TD, dispnea, nyeri dada, kelelahan berat,
kelemahan, berkeringat, pusing atau pingsan.
Rasional:
Parameter
menunjukkan respon fisiologis pasien terhadap stres aktifitas dan indikator
derajat pengaruh kelebihan kerja jnatung.
b.
Tingkatkan istirahat, batasi
aktifitas pada dasar nyeri/respon hemodinamik, berikan aktifitas senggang yang
tidak berat.
Rasional:
Menurunkan
kerja miokard/konsumsi oksigen, menurunkan resiko komplikasi.
c.
Batas pengunjung atau kunjungan oleh
pasien.
Rasional:
Pembicaraan
yang panjang sangat mempengaruhi pasien, namun periode kunjungan yang tenang
bersifat terapeutik.
d.
Kaji kesiapan untuk meningkatkan
aktifitas contoh: penurunan kelemahan/kelelahan, TD stabil/frekuensi nadi,
peningkatan perhatian pada aktifitas dan perawatan diri.
Rasional:
Stabilitas
fisiologis pada istirahat penting untuk menunjukkan tingkat aktifitas individu.
e.
Dorong memajukan aktifitas/toleransi
perawatan diri.
Rasional:
Konsumsi
oksigen miokardia selama berbagai aktifitas dapat meningkatkan jumlah oksigen
yang ada. Kemajuan aktifitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja
jantung.
f.
Berikan bantuan sesuai kebutuhan
(makan, mandi, berpakaian, eleminasi).
Rasional:
Teknik
penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan membantu keseimbangan
suplai dan kebutuhan oksigen.
g.
Jelaskan pola peningkatan bertahap
dari aktifitas, contoh: posisi duduk ditempat tidur bila tidak pusing dan tidak
ada nyeri, bangun dari tempat tidur, belajar berdiri dst.
Rasional:
Aktifitas
yang maju memberikan kontrol jantung, meningkatkan regangan dan mencegah
aktifitas berlebihan.
2.7.4. Evaluasi Keperawatan
·
Pasien mampu melihat benda dengan jarak
jauh atau dekat. · Pasien mampu mengorientasikan dirinya terhadap lingkungan,
staf, orang lain diareanya.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA LANSIA
DENGAN PRESBIOPI
3.1
Asuhan Keperawatan pada pasien presbiopi
3.1.1 Pengkajian klien
1.
Identitas Klien
Nama : Ny. I
Umur : 77 Th
Jenis
kelamin : Perempuan
Status
Perkawinan : Janda
Agama
: Islam
Suku : Sunda
Pendidikan
Terakhir : SD
Keluarga
yg dpt dihubungi :
Diagnosa
Keperawatan : Presbiopi
Tgl
Pengkajian : 10 Februari 2015
2.
Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengatakan pengelihatannya menjadi
kabur terutama pada mata bagian kiri sejak setahun lalu, matanya menjadi
sensitive terhadap cahaya yang terlalu kuat dan mata akan terasa sakit dan
pusing setelah melihat tulisan untuk dibaca.
3.
Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien mengatakan
pernah mengalami sakit pada daerah lutut kanan dan lutut kiri, terutama jika
klien makan daun singkong dan telur ayam. klien juga mengatakan pernah
mengalami gatal-gatal alergi pada kulit setelah makan ikan, dan klien juga
mengatakan belum pernah dirawat dirumah sakit sebelumnya.
4.
Data
Psikososial dan Spiritual
a.
Sosial
Hubungan klien dengan lansia yang
lain baik, terbukti klien suka mengobrol dengan lansia yang lain, klien
mengatakan betah berada di panti wreda Siti Khadijah ini, karena ini adalah
keinginannya sendiri untuk berada ditempat ini.
b.
Masalah Emosional
Pertanyaan Tahap 1
1) Apakah klien mengalami sukar tidur
?
Klien mengatakan tidak mengalami
sukar tidur.
2) Apakah klien sering merasa gelisah
?
`Saat melakukan pengkajian klien
mengatakan tidak merasa gelisah.
3) Apakah klien sering murung atau
menangis sendiri ?
Saat melakukan pengkajian klien
mengatakan kalau klien tidak sering murung atau menangis sendirian.
4) Apakah klien sering was-was atau
kuatir ?
Saat melakukan pengkajian klien
mengatakan kalau klien tidak merasa was-was atau kuatir.
Masalah
emosional negatif(-)
c.
Spiritual
Klien bisa menjalankan ibadah
secara normal tanpa ada hambatan.
5.
Pola Kebiasaan Sehari-hari
|
Kegiatan
|
Frekuensi
|
|
1.
Nutrisi
a.
Makan
b.
Nafsu makan
c.
Jenis makanan
d.
Makanan yang tidak disukai
e.
Kebiasaan sebelum makan
f.
BB
g.
TB
|
3x/hari
prsi habis
Nasi, lauk, sayur
Telur Ayam, udang, ikan
Berdoa
56 kg
170 cm
|
|
2.
Eliminasi
a. BAK
- Warna
- Keluhan
b. BAB
- Warna
- Keluhan
|
8x/hari
Normal kekuningan
tidak ada keluhan
1x/hari
Normal kekuningan
tidak ada keluhan
|
|
3.
Personal Hygiene
a. Mandi
b. Hygiene Oral
c. Cuci Rambut
d. Gunting Kuku
|
2x/hari
2x/hari
1x/minggu
1x/minggu
|
|
4.
Istirahat dan Tidur
a. Waktu
b. Tidur Siang
|
23.00 - 05.00
2-3 jam
|
|
5.
Aktivitas dan Latihan
a. Olah Raga
b. Waktu Luang
c. Keluhan dalam aktifitas
|
jarang
Mengobrol dengan teman dan
menonton TV
Akan merasa sedikit sesak nafas
setelah melakukan aktifitas yang agak berat
|
|
6.
Merokok
a. Minuman Keras
b. Ketergantungan obat
|
tidak minum minuman keras
tidak ada ketergantungan obat
|
6. Pemeriksaan
Umum
Penampilan
Umum : Bersih rapih
Kesadaran : composmetis
Berat
Badan : 56 kg
Tinggi
Badan : 170 cm
Tekanan
Darah : 140/80 mmhg
Respirasai : 24x/menit
Nadi : 80x/menit
Suhu
Tubuh : 36,1oC
1.
Keadaan
Umum
Bersih
dan rapih
2.
Kesadaran
Umum
Composmetis,
GCS = 15
3.
Kepala
Bentuk kepala simetris, tidak terdapat benjolan, tidak
ada lesi, kulit kepala agak kotor dan agak berminyak dan tidak ada ketombe, Keadaan
rambut klien tipis, distribusi merata, warna rambut putih kehitaman.
4.
Hidung
Bentuk
hidung simetris, Tidak ada selumen, tidak ada polips, tidak ada lesi dan
kotoran.
5.
Mata
Penglihatan :
Sklera :
Konjungtiva :
Pupil :
Reaksi
thd cahaya : Sensitif
6.
Telinga
Bentuk :
Secret :
Fungsi
pendengaran : terdapat gangguan
7.
Mulut,
Gigi dan Tenggorokan
Bentuk bibir simetris, lubang pada 4 gigi geraham
belakang, mukosa berwarna merah muda,tidak ada perdarahan gusi, tidak ada
kelainan bentuk palatum, tidak ada pembesaran tonsil ataupun proses inflamasi
pada rongga mulut.
8.
Leher
Tidak
ada pembesaran kelenjar tyroid, jika menelan tidak sakit, tidak ada nyeri
tekan, bisa digerakan ke segala arah.
9.
Dada
(Thorak & Paru)
Bentuk dada :
Suara nafas :
Ronkhi positive, Wheezing positive
Nyeri :
Getang bening :
Tidak ada pembesaran
10.
Jantung
Suara jantung :
bunyi S1 dan S2 terdengar jelas (lup-dub), frekuensi = 84x/menit, irama = aritmia, gallop negative,
mur-mur negative
11.
Abdomen
Bising usus ...... hepatomegali?, nyeri
tekan?.....
12.
Genitalia
tidak
terkaji
13.
Ekstremitas
Bentuk :
simetris
Tonus otot :
Ekstremitas atas kanan 4, ekstremitas atas kiri 4
Kuku :
panjang dan kotor
Terpasang infus :
D5% = 16 TPM, dilengan kanan bawah
Tugor kulit :
kurang, lebih dari 3 detik
Warna kulit :
Sianosis
7. Pengkajian
Status Fungsional
- Modifikasi Barthel Indeks
|
No.
|
Kriteria
|
Dengan Bantuan
|
Mandiri
|
|
1.
|
Makan
|
|
10
|
|
2.
|
Minum
|
|
10
|
|
3.
|
Perpindahan dari tempat tidur ke kursi dan sebaliknya
|
|
15
|
|
4.
|
Personal toilet (cuci muka, menyisir, menggosok gigi)
|
|
10
|
|
5.
|
Keluar masuk toilet (Mencuci baju, menyeka baju,
menyiram)
|
|
10
|
|
6.
|
Mandi
|
|
10
|
|
7.
|
Jalan dipermukaan datar
|
|
10
|
|
8.
|
Naik turun tangga
|
|
10
|
|
9.
|
Mengenakan pakaian
|
|
10
|
|
10.
|
Kontrol bowel (BAB)
|
|
10
|
|
11.
|
Kontrol bleder (BAK)
|
|
10
|
|
12.
|
Olah Raga
|
|
10
|
|
13.
|
Rekreasi atau pemanfaatan waktu
|
|
10
|
Interpensi
Dengan Skor 135 Ny.
I termasuk mandiri
- KATZ Indeks
Klien mengatakan segala sesuatu masih bisa di kerjakan
sendiri, seperti makan, mandi, mengenakan pakaian, pergi ke toilet, bergerak /
mobilisasi, dan BAB/BAK. (KATZ Indeks A).
- Short Portable Mental Questionare (SPMQ)
|
No
|
Salah
|
Benar
|
Salah
|
|
1
|
Tanggal berapa hari ini ?
|
|
ü
|
|
2
|
Hari apa sekarang ini ?
|
|
ü
|
|
3
|
Apa nama tempat ini ?
|
ü
|
|
|
4
|
Berapa Nomor telepon saudara ?
|
|
ü
|
|
5
|
Dimana tempat saudara ?
|
ü
|
|
|
6
|
Berapa umur saudara ?
|
ü
|
|
|
7
|
Kapan anda dan suami/istri anda lahir?
|
ü
|
|
|
8
|
Siapa presiden indonesia sekarang ?
|
ü
|
|
|
9
|
Siapa nama kecil anda ?
|
ü
|
|
|
10
|
-3 dari angka 20 secara menurun ?
|
ü
|
|
|
|
|
∑ = 7
|
∑ = 3
|
|
7
|
Score total benar
=
Interpensi
hasil
Dengan nilai skor Ny. I Mengalami gangguan Intelektual
sedang
8. Analisa
Data
|
No
|
Data
|
Etiologi
|
Masalah
|
|
1.
|
DS :
-
Klien mengatakan pandanganya tidak jelas terutama mata sebelah kiri
-
Klien mengatakan tidak bisa melihat benda dengan jarak yang dekat dan
jarak yang jauh
DO :
Klien terlihat mengernyitkan
dahi ketika melihat benda dengan jarak dekat
|
Usia bertambah
Proses penuaan
penurunan kekuatan otot ciliary
kelemahan otot akomodasi
bayangan benda tidak fokus
pandangan jadi kabur
penurunan kemampuan melihat (jauh atau dekat)
|
gangguan persepsi sensori
|
|
2.
|
DS :
Klien mengatakan matanya pedih dan kepala terasa pusing
saat fokus pada suatu benda
DO :
Mata klien terlihat berair setelah dirahkan untuk fokus
pada sebuah benda
klien terlihat memegang kepalanya
|
Usia bertambah
pandangan jadi kabur
penurunan kemampuan melihat (jauh atau dekat)
terlalu lama fokus pada suatu benda
pusing
|
gangguan rasa nyaman nyeri
|
|
3.
|
DS :
- Klien mengatakan matanya pedih jika terkena sinar yang
cukup kuat
- Klien mengatakan tidak suka keluar ke halaman pada
siang hari karena terlalu terang
DO :
Klien terlihat menghindari tempat yang terkena cahaya
matahari langsung
|
Proses penuaan
Sensitifitas mata meningkat
terkena cahaya yang cukup kuat
Pusing, mata pedih
aktifitas di tempat yang terlalu terang berkurang
|
Gangguan aktifitas
|
9. Diagnosa
dan Prioritas Masalah
1.
gangguan
persepsi sensori b/d perubahan kemampuan memfokuskan sinar pada retina.
2.
gangguan
rasa nyaman nyeri b/d usaha pemfokusan mata
3.
gangguan
aktifitas b/d sensitifitas mata terhadap cahaya
10.
Rencana Asuhan Keperawatan Gerontik
Nama
: Ny. I
Dox.
Medis : Presbiopi
|
No.
|
Diagnosa
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
|
gangguan persepsi sensori b/d perubahan kemampuan
memfokuskan sinar pada retina.
|
Tujuan:
kemampuan persepsi sensori bisa meningkat
Kriteria hasil:
- Ketajaman
penglihatan klien meningkat dengan bantuan otot
- Klien
mengenal gangguan sensori yang terjadi dan melakukan kompensasi terhadap
perubahan.
|
- Jelaskan
penyebab gangguan penglihatan.
- Lakukan
uji ketajaman penglihatan.
- Kolaborasi
dengan tim medis dalam pemberian lensa kontak/ kacamata bantu atau operasi.
|
- Pengetahuan
tentang penyebab, mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan klien
sehingga klien kooperatif dalam tindakan keperawatan.
- Mengetahui
visus dasar klien dan perkembangannya setelah diberikan tindakan.
|
|
2.
|
gangguan rasa nyaman nyeri b/d usaha pemfokusan
mata
|
Tujuan :
Rasa nyaman klien terpenuhi.
Kriteria hasil :
- Keluhan
klien (pusing, mata lelah, berair) berkurang / hilang
- Klien
mengenal gejala gangguan sensori dan dapat berkompensasi terhadap perubahan
yang terjadi.
|
- Jelaskan
penyebab pusing, mata lelah, berair.
- Anjurkan
agar klien cukup istirahat dan tidak melakukan aktifitas membaca
terus-menerus.
- Gunakan
lampu atau penerangan yang cukup (dari atas dan belakang) saat membaca.
- Kolaborasi
pemberian kacamata untuk meningkatkan tajam penglihatan klien.
|
- Mengurangi
kecemasan dan meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien kooperatif dalam
tindakan keperawatan.
- Mengurangi
kelelahan mata sehingga pusing berkurang.
- Mengurangi
silau dan akomodasi yang berlebihan.
|
|
3.
|
gangguan aktifitas b/d kelelahan
|
kriteria Hasil: menunjukkan peningkatan dalam
beraktifitas
|
- Kaji
toleransi pasien terhadap aktifitas menggunakan parameter berikut: nadi
20/mnt di atas frekuensi nadi istirahat, catat peningkatan TD, dispnea, nyeri
dada, kelelahan berat, kelemahan, berkeringat, pusing atau pingsan.
- Tingkatkan
istirahat, batasi aktifitas pada dasar nyeri/respon hemodinamik, berikan
aktifitas senggang yang tidak berat.
- Kaji
kesiapan untuk meningkatkan aktifitas contoh: penurunan kelemahan/kelelahan,
TD stabil/frekuensi nadi, peningkatan perhatian pada aktifitas dan perawatan
diri.
- Berikan
bantuan sesuai kebutuhan (makan, mandi, berpakaian, eleminasi).
- Jelaskan
pola peningkatan bertahap dari aktifitas, contoh: posisi duduk ditempat tidur
bila tidak pusing dan tidak ada nyeri, bangun dari tempat tidur, belajar
berdiri dst.
|
- Parameter
menunjukkan respon fisiologis pasien terhadap stres aktifitas dan indikator
derajat pengaruh kelebihan kerja jnatung.
- Menurunkan
kerja miokard/konsumsi oksigen, menurunkan resiko komplikasi.
- Stabilitas
fisiologis pada istirahat penting untuk menunjukkan tingkat aktifitas
individu.
- Rasional:
- Konsumsi
oksigen miokardia selama berbagai aktifitas dapat meningkatkan jumlah oksigen
yang ada. Kemajuan aktifitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada
kerja jantung.
- Aktifitas
yang maju memberikan kontrol jantung, meningkatkan regangan dan mencegah
aktifitas berlebihan.
|
11.
Implementasi
|
No
|
Tgl
|
Diagnosa
|
Tindakan Keperawatan dan Respon Klien
|
Tanda Tangan
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
1.
|
|
|
|
|
|
2.
|
|
|
|
|
|
3.
|
|
|
|
|
12.
Evaluasi dan Catatan Perkembangan (SOAPIER)
|
No
|
Tgl
|
Diagnosa
|
Tindakan Keperawatan dan Respon Klien
|
Tanda Tangan
|
|
1.
|
|
|
|
|
|
2.
|
|
|
|
|
|
3.
|
|
|
|
|
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran
a)
Saran buat panti
Dijaga terus kebersamaan
penghuni panti seterusnya, dijaga silaturahmi, leih ditingkatkan lagi
pemantauan penghuni panti oleh pengurus panti, kebersihan lebih dijaga lagi.
b)
Saran buat kampus
Sebaiknya jika dilakukan
praktek dipanti maupun di rumah sakit sering di pantau oleh pembimbing dari
kampus, ditingkatkan lagi system praktik belajar lapang (PBL), lebih tingkatkan
lagi persiapan untuk praktek kerja lapangan selanjutnya.
c)
Saran buat sendiri
Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Maka dari itu
penulis mengharapkan saran dan tambahan dari rekan-rekan. Serta dapat
memanfaatkan makalah ini sesuai dengan kepentingan para pembaca sendiri.
DAFTAR PUSAKA
Carpenito, Lynda
Juall. 2000. Buku Diagnosa
Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Doengoes,
Marilynn E. Et al. 1999, Rencana
Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Purnawan, J. (et
al). 1999. Kapita Selekta Kedokteran.
Edisi 3 Jakarta: FKUI
Sidarta, Ilyas.
(et al). 1981. Sari Ilmu Penyakit
Mata. Jakarta: FKUI
Download dalam bentuk words dokumen
No comments:
Post a Comment